PALU — Sebanyak 87 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat melanda Sulawesi Tengah hingga 28 Agustus 2026. Angka ini juga disertai 15 kejadian kekeringan yang tersebar di sejumlah wilayah, mendorong Gubernur Anwar Hafid menerbitkan instruksi kesiapsiagaan kepada jajaran pemerintah daerah.
Instruksi tersebut menyusul peningkatan signifikan kejadian karhutla pada Agustus. BPBD Sulawesi Tengah mencatat sekitar 59 kejadian terjadi pada bulan ini, setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa bulan sebelumnya.
Lonjakan Kasus Tersebar di 10 Kabupaten dan Kota
Kejadian karhutla terkonsentrasi di sepuluh daerah, yakni Tojo Una-una, Banggai, Banggai Kepulauan, Parigi Moutong, Buol, Tolitoli, Donggala, Sigi, Poso, dan Kota Palu. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai fokus utama penanganan jangka pendek.
Tingginya angka kejadian membuat Gubernur meminta apel gelar pasukan digelar di tiap kabupaten dan kota. Apel siaga dinilai penting untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, serta menguji koordinasi antarinstansi di lapangan.
"Nanti silakan melakukan apel gelar pasukan, untuk yang belum pernah ada gelar pasukan atau apel siaga. Apel siaga dilakukan di masing-masing kabupaten/kota untuk melakukan upaya penanganan," kata Anwar Hafid di Palu, Selasa.
Kepala Desa dan Lurah Diminta Jadi Ujung Tombak Pencegahan
Gubernur tidak hanya mengandalkan respons di tingkat kabupaten. Ia meminta para bupati menggerakkan seluruh kepala desa untuk menggelar pertemuan di balai desa dengan mengundang masyarakat dan tokoh setempat. Pertemuan ini menjadi sarana sosialisasi pencegahan karhutla dari tingkat paling bawah.
Peran kepala desa dan lurah dinilai krusial karena mereka berada paling dekat dengan masyarakat. Pemahaman mereka terhadap kondisi wilayah masing-masing memungkinkan deteksi dini titik rawan kebakaran.
Anwar Hafid menekankan agar warga menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar. Ia juga meminta masyarakat lebih berhati-hati terhadap sumber api, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan yang kerap memicu kebakaran di musim kemarau.
Simulasi Penanganan Disiapkan untuk Uji Respons Petugas
Selain apel siaga dan sosialisasi, pemerintah daerah diminta menyiapkan simulasi penanganan karhutla. Simulasi ini bertujuan memastikan petugas dan warga memahami langkah-langkah yang harus diambil ketika kebakaran terjadi, sehingga respons di lapangan bisa lebih cepat dan terukur.
Gubernur mengharapkan seluruh kepala daerah segera menindaklanjuti instruksi tersebut. Penguatan koordinasi penanganan karhutla di setiap wilayah menjadi kunci menekan meluasnya kebakaran yang berpotensi merusak lahan produktif dan mengganggu kesehatan masyarakat akibat kabut asap.