LIPUTANHARIAN.CO.ID — Resepsi diplomatik ini menjadi ajang promosi budaya Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia, Teuku Faizasyah, menegaskan bahwa musik memiliki keselarasan dengan praktik diplomasi dalam membangun kesepahaman antarnegara.
"Musik dan diplomasi sama-sama mengandalkan komunikasi verbal dan nonverbal, kemampuan untuk mendengarkan dengan saksama, dan menemukan harmoni di antara suara-suara yang berbeda untuk menjembatani perbedaan," ujar Faizasyah dalam keterangan resmi KBRI Oslo, Jumat (28/8).
Fondasi Kemitraan yang Telah Berjalan 75 Tahun
Faizasyah menyebut Indonesia dan Norwegia memiliki fondasi kemitraan yang kuat, berlandaskan keterbukaan, nilai-nilai demokrasi, serta penghormatan terhadap hukum internasional. Kesamaan nilai tersebut menjadi modal untuk mempererat dialog strategis dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.
"Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kami menatap masa depan dengan penuh keyakinan dan optimisme. Kami tetap berkomitmen untuk bekerja erat dengan Norwegia dan seluruh mitra guna memperdalam dialog, memperkuat kerja sama di berbagai forum, termasuk hubungan antarmasyarakat, dan berkontribusi bagi dunia yang lebih damai, berkelanjutan, dan sejahtera," tegasnya.
Hubungan diplomatik RI-Norwegia sendiri telah berjalan sejak 1950. Kerja sama strategis mencakup bidang iklim, energi, dan perdagangan, dengan Norwegia mengapresiasi capaian Indonesia dalam mengurangi deforestasi.
Apresiasi Pejabat Norwegia dan Akademisi Oslo
Kristofer André Hansen menyambut hangat pendekatan diplomasi budaya yang diusung KBRI Oslo. Ia menganalogikan kolaborasi kedua negara melalui harmoni dalam bermusik.
"Harmoni tidak tercipta dari suara-suara yang sama, tetapi dari suara-suara berbeda yang saling mendengarkan, merespons dengan kepercayaan, dan menemukan irama bersama," katanya.
Senada dengan Hansen, Profesor Ilmu Politik University of Oslo, Dan Banik, mengapresiasi pendekatan yang dianggapnya tidak lazim dalam forum diplomatik. "Siapa bilang diplomasi membosankan? Perayaan Hari Nasional Indonesia di Oslo benar-benar berubah menjadi sebuah pesta. Jarang sekali saya bersenang-senang seperti ini di sebuah acara diplomatik. Inilah diplomasi budaya dalam bentuk terbaiknya," jelasnya.
Poco-Poco dan Gemu Fa Mi Re Meriahkan Resepsi
Suasana resepsi berlangsung hangat saat Tantowi Yahya dan Thomshell Band membawakan narasi budaya Nusantara. Para undangan diajak bernyanyi serta menari Gemu Fa Mi Re dan Poco-Poco bersama, menutup rangkaian acara dengan interaksi langsung antara tamu asing dan budaya Indonesia.
Indonesian Cultural Night menjadi salah satu upaya KBRI Oslo dalam memperkuat diplomasi publik di Norwegia. Acara ini dihadiri korps diplomatik, perwakilan Pemerintah Norwegia, dunia usaha, dan diaspora Indonesia.