LIPUTANHARIAN.CO.ID — Sebanyak 20 anak dirawat di satu rumah sakit anak di Quezon City, Filipina, karena subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), komplikasi campak yang muncul bertahun-tahun setelah anak tampak sembuh. Studi atas 20 kasus sepanjang 2007–2022 itu jadi pengingat penting bagi ibu di Indonesia soal jadwal imunisasi campak-rubela anak.
SSPE adalah komplikasi campak yang jarang terjadi, tetapi bisa muncul lama setelah anak terlihat pulih total. Virus campak menetap di sistem saraf pusat, lalu merusak fungsi otak dan saraf secara bertahap. Kondisi ini hampir selalu berakhir fatal.
Laporan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases menelaah catatan medis 20 anak yang dirawat dengan SSPE di sebuah rumah sakit anak di Quezon City, Filipina, pada 2007–2022. Usia rata-rata saat dirawat 6,2 tahun, sementara usia rata-rata ketika dilaporkan terkena campak sekitar 8 bulan.
Apa Itu SSPE dan Mengapa Muncul Belakangan
Setelah sembuh dari campak, anak bisa kembali bermain seperti biasa. Namun pada kasus langka, infeksi campak memicu peradangan otak yang baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Keluarga biasanya sudah menganggap penyakitnya sudah berlalu.
SSPE berkembang perlahan. Tahap awal bisa berupa perubahan perilaku atau kemampuan berpikir anak. Setelah itu muncul gerakan menyentak tak terkendali, kejang, gangguan gerak, hingga penurunan kesadaran.
Empat Kasus Dikaitkan dengan Wabah Campak 2018–2019
Empat anak dalam laporan tersebut diperkirakan terinfeksi saat wabah campak 2018–2019. Mereka dirawat pada 2020–2022, sekitar 2–3 tahun setelah infeksi. Peneliti menduga kasus-kasus ini bisa jadi awal gelombang kasus pascawabah, karena jeda SSPE memang bertahun-tahun.
Perlu dicatat, jumlah 20 anak dari satu rumah sakit tidak bisa dipakai menghitung risiko SSPE di seluruh populasi. Angka itu hanya menggambarkan pola kasus di satu fasilitas kesehatan.
Riwayat Campak Tak Selalu Tercatat
Pada sekitar seperempat anak dalam laporan, riwayat campak tidak diketahui atau tidak tercatat. Artinya, ketiadaan catatan campak tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan SSPE.
Sebagian anak juga pernah menerima vaksin campak. Peneliti menegaskan SSPE berkaitan dengan infeksi virus campak alami, bukan virus campak yang dilemahkan dalam vaksin.
Kapan Perlu ke Dokter
Perubahan perilaku atau kemampuan berpikir yang makin memburuk perlu diperiksa dokter. Apalagi jika disertai gerakan menyentak atau kejang. Gejala seperti ini tidak otomatis berarti SSPE, tetapi pemeriksaan lebih awal membantu memastikan penyebabnya.
Lindungi Anak Lewat Imunisasi Sesuai Jadwal
Cara paling ampuh mencegah SSPE adalah mencegah campak itu sendiri. Di Indonesia, imunisasi rutin campak-rubela diberikan pada usia 9 dan 18 bulan, lalu imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah.
Ibu bisa mengecek buku KIA atau berkonsultasi dengan puskesmas untuk memastikan jadwal imunisasi anak tidak terlewat. Jika ada dosis yang terlewat, tanyakan cara mengejarnya ke petugas kesehatan.
Kasus di Filipina menunjukkan campak bukan sekadar demam dan ruam yang berlalu dalam seminggu. Perlindungan lewat imunisasi sesuai jadwal jadi langkah paling nyata untuk menjaga anak dari komplikasi yang muncul belakangan.