Pencarian

Dinkes Bali Buka Suara soal Travel Warning AS terkait Virus Zika, Belum Ada Kasus Terkonfirmasi

Selasa, 25 Agustus 2026 • 09:05:31 WIB
Dinkes Bali Buka Suara soal Travel Warning AS terkait Virus Zika, Belum Ada Kasus Terkonfirmasi
Dinas Kesehatan Provinsi Bali memastikan belum ada kasus terkonfirmasi virus Zika di wilayahnya, merespons peringatan perjalanan yang diterbitkan CDC AS.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali memastikan belum menemukan kasus terkonfirmasi virus Zika di wilayahnya, meski Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) baru saja menerbitkan peringatan perjalanan (Travel Health Notice) Level 2. Peringatan itu muncul setelah seorang pelancong yang baru kembali dari Bali dilaporkan positif terjangkit virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.

DENPASAR — Dinkes Bali menegaskan status wilayahnya masih bersih dari penyebaran virus Zika. Klarifikasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinkes Bali I Nyoman Gede Anom di Denpasar, Senin, sebagai respons atas pemberitaan peringatan kesehatan dari CDC Amerika Serikat.

"Berdasarkan data surveilans rutin dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota serta rumah sakit se-Bali, sampai saat ini belum ditemukan adanya kasus terkonfirmasi Zika di Provinsi Bali," kata Anom.

Pemicu Peringatan CDC dan Respons Dinkes Bali

Peringatan dari CDC tersebut dikeluarkan setelah satu pasien yang baru kembali dari Bali terkonfirmasi positif Zika. Meski begitu, Anom menyatakan pihaknya justru mengapresiasi sistem peringatan dini global itu dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Virus Zika memiliki masa inkubasi 3–14 hari. Gejalanya cenderung lebih ringan dibanding Demam Berdarah Dengue (DBD), seperti ruam, demam, mata merah, nyeri otot dan sendi, lemah, serta sakit kepala yang berlangsung selama 4–7 hari.

Pencegahan: 3M Plus dan PHBS Jadi Kunci

Kendati belum ada kasus, Dinkes Bali tidak tinggal diam. Masyarakat serta wisatawan domestik dan mancanegara diimbau untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan.

Pencegahan difokuskan pada gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, mendaur ulang, serta menggunakan losion anti-nyamuk atau obat nyamuk lain dan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor utama virus.

“Apabila ada yang mengalami gejala-gejala seperti yang tercantum di atas agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan,” ujar Anom.

Penguatan Laboratorium di Pintu Masuk Bali

Sebagai langkah proaktif, Kemenkes bersama Dinkes Bali meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan kapasitas laboratorium dan jejaring surveilans (Surveilabs).

Strategi ini mencakup peningkatan kapasitas pemeriksaan PCR dan serologi di laboratorium daerah serta rujukan nasional. Selain itu, kewaspadaan juga ditingkatkan di pintu masuk negara melalui karantina kesehatan hingga intensifikasi pemantauan gejala di puskesmas dan rumah sakit.

Sumber: antaranews.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks