Pencarian

Polda Kalteng Kembangkan Cairan Pemadam Shabondama untuk Karhutla, Padamkan Api di Gambut Lebih Cepat

Jumat, 04 September 2026 • 05:00:31 WIB
Polda Kalteng Kembangkan Cairan Pemadam Shabondama untuk Karhutla, Padamkan Api di Gambut Lebih Cepat
Personel Polda Kalimantan Tengah mendemonstrasikan penggunaan cairan pemadam Shabondama untuk penanganan karhutla di lahan gambut.

PALANGKA RAYA — Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah berharap cairan pemadam kebakaran asal Jepang, Shabondama, bisa segera digunakan secara luas untuk menangani karhutla di daerah itu. Inovasi yang dikembangkan bersama Universitas Palangka Raya (UPR) ini dinilai sebagai solusi ideal untuk lahan gambut yang selama ini sulit dipadamkan dengan cara konvensional. Personel Polda Kalimantan Tengah, AKBP Edia Sutaata, menyampaikan bahwa cairan ini merupakan bahan pemadam berbasis liquid foam atau busa sabun yang ramah lingkungan. Campuran Shabondama pada air disebut mampu meningkatkan daya padam secara signifikan, terutama untuk menjangkau titik api di dalam material gambut. "Dengan campuran cairan Shabondama, air dapat menghasilkan daya padam yang lebih maksimal dan cepat," kata Edia, Kamis.

Riset Berjalan Sejak 2019, Api Padam Total Saat Uji Coba

Pengembangan Shabondama bukan tanpa dasar. Edia menjelaskan, formula ini telah melalui serangkaian penelitian akademik dan uji penerapan di lapangan sejak 2019. Hasil uji coba menunjukkan efektivitas yang tinggi. "Alhamdulillah, dari hasil uji coba di lapangan, api pada titik yang dilakukan pemadaman bisa padam total," ungkapnya. Keunggulan utama formula ini terletak pada kemampuannya menembus medan yang sulit. Karakter cairan tersebut membantu air lebih efektif meresap dan menjangkau material gambut yang terbakar di lapisan bawah, sesuatu yang kerap menjadi kendala saat pemadaman manual menggunakan air biasa.

Produksi Masih di Jepang, Pabrik di Indonesia Menunggu SNI

Meski menjanjikan, pemanfaatan Shabondama secara luas masih terkendala status produksinya. Edia menyebut hingga saat ini cairan tersebut masih diproduksi di Jepang dan belum diproduksi massal di Indonesia. "Untuk saat ini hanya tersedia contoh saja. Kalau sudah produksi massal, tentu bisa digunakan lebih luas," tuturnya. Ketersediaan cairan di Indonesia masih terbatas pada sampel untuk keperluan penelitian dan pengujian. Terdapat rencana pendirian pabrik Shabondama di Indonesia, namun realisasinya masih menunggu penyelesaian proses perizinan dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk penerbitan Standar Nasional Indonesia (SNI). "Untuk kapan prosesnya selesai, BSN yang bisa menjawab, karena semua syarat dan prosedur sudah dipenuhi," pungkas Edia.

Sumber: kalteng.antaranews.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks