LIPUTANHARIAN.CO.ID — Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di atas 5% memasuki kuartal IV-2026, disertai perbaikan keyakinan konsumen dan penjualan eceran. Namun di sisi lain, inflasi kembali meningkat, Rupiah masih tertekan, dan jumlah pekerja yang terkena PHK bertambah menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Gambaran ekonomi Indonesia memasuki kuartal IV-2026 terbelah menjadi dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, mesin pertumbuhan masih berjalan dengan keyakinan konsumen dan penjualan eceran yang mulai membaik. Di sisi lain, tekanan pada stabilitas harga dan nilai tukar justru menguat, sementara pasar tenaga kerja menanggung beban tambahan dari gelombang pemutusan hubungan kerja.
Paparan tersebut disampaikan dalam program Power Lunch CNBC Indonesia edisi Senin (05/10/2026), yang menyorot rapor indikator ekonomi menjelang genap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pertumbuhan Ekonomi Masih di Atas 5%
Angka pertumbuhan ekonomi yang bertahan di atas 5% menjadi modal utama pemerintah memasuki tahun kedua. Level tersebut menempatkan Indonesia di kelompok atas negara berkembang Asia Tenggara, meski belum cukup untuk melompat ke jalur ekspansi yang lebih tinggi.
Dua indikator permintaan domestik menunjukkan arah perbaikan. Keyakinan konsumen yang mulai membaik menandakan rumah tangga kembali berani membelanjakan pendapatannya. Penjualan eceran yang ikut menguat memperkuat sinyal tersebut, terutama pada segmen barang konsumsi sehari-hari dan ritel modern.
Kombinasi keduanya penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto Indonesia. Tanpa pemulihan di sisi ini, target pertumbuhan yang lebih ambisius akan sulit dicapai.
Inflasi dan Rupiah Jadi Titik Lemah
Di sisi lain, inflasi kembali meningkat dan menjadi catatan tersendiri bagi arah kebijakan moneter. Kenaikan harga yang kembali terjadi membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan suku bunga, terutama jika tekanan datang dari sisi biaya.
Rupiah juga masih tertekan, menandakan arus keluar modal atau kuatnya permintaan dolar belum sepenuhnya reda. Pelemahan nilai tukar berdampak langsung pada biaya impor bahan baku dan barang modal, yang pada akhirnya bisa merembet ke harga jual di tingkat konsumen.
Kombinasi inflasi naik dan Rupiah tertekan menciptakan dilema klasik bagi otoritas moneter. Menahan suku bunga tinggi untuk menjaga kurs berisiko menekan pertumbuhan kredit, sementara menurunkan suku bunga terlalu cepat bisa memperburuk pelemahan Rupiah.
PHK Bertambah, Pasar Tenaga Kerja Jadi Sorotan
Jumlah pekerja yang terkena PHK bertambah menjadi sinyal yang paling sensitif secara sosial. Gelombang pemutusan hubungan kerja menyentuh sektor-sektor padat karya, yang selama ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Penambahan angka PHK ini kontras dengan perbaikan keyakinan konsumen dan penjualan eceran. Jika PHK berlanjut, daya beli rumah tangga bisa tergerus dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan pemulihan konsumsi yang baru mulai terbentuk.
Bagi pelaku pasar, kombinasi data ini menuntut kehati-hatian dalam menempatkan dana. Sektor yang bergantung pada daya beli dan impor bahan baku berada di posisi paling rentan terhadap tekanan kurs dan inflasi.
Apa yang Perlu Dicermati ke Depan
Empat indikator kunci yang perlu dipantau investor dan pelaku usaha dalam beberapa bulan mendatang mencakup:
- Arah inflasi bulanan, apakah kenaikan bersifat sementara atau struktural
- Pergerakan Rupiah terhadap dolar AS dan intervensi Bank Indonesia
- Data ketenagakerjaan, khususnya laju penambahan PHK di sektor padat karya
- Keberlanjutan pemulihan keyakinan konsumen dan penjualan eceran
Bagi dunia usaha, ketidakpastian di sisi biaya dan nilai tukar menuntut strategi lindung nilai yang lebih disiplin. Sementara bagi investor, diversifikasi ke sektor yang berorientasi ekspor atau memiliki pendapatan dolar bisa menjadi bantalan terhadap pelemahan Rupiah.
Rapor dua tahun pemerintahan Prabowo pada akhirnya akan dinilai dari kemampuan menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan menstabilkan harga. Pertumbuhan di atas 5% menjadi pijakan, tetapi tanpa perbaikan di sisi inflasi, kurs, dan lapangan kerja, kualitas pemulihan ekonomi masih menyisakan pertanyaan.