Pencarian

Berbagi ASI Antar Sahabat: Amankah untuk Bayi? Ini Faktanya

Jumat, 18 September 2026 • 09:02:01 WIB
Berbagi ASI Antar Sahabat: Amankah untuk Bayi? Ini Faktanya
Dua saudara ipar di Inggris, Holly dan Becky Stevens, saling menyusui bayi satu sama lain selama tujuh tahun terakhir.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Dua saudara ipar di Inggris, Holly dan Becky Stevens, saling menyusui bayi satu sama lain selama tujuh tahun terakhir. Keputusan ini berawal dari situasi darurat saat bayi Holly baru berusia lima hari. Lalu, seberapa aman praktik berbagi ASI seperti ini bagi kesehatan bayi?

Kisah Holly dan Becky Stevens menjadi perbincangan setelah keduanya tampil di sebuah acara televisi Inggris. Keduanya mengaku tidak pernah merencanakan pengaturan ini secara formal. Semuanya berjalan alami karena kedekatan mereka sebagai keluarga.

Bagi sebagian ibu, berbagi ASI mungkin terdengar asing. Namun praktik ini sebenarnya sudah berlangsung lama dan masih dilakukan sejumlah keluarga di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Awal Mula Holly dan Becky Saling Menyusui

Semua bermula saat putra Holly, Freddy, baru berusia lima hari. Ketika itu Becky menjaga Freddy yang tiba-tiba membutuhkan asupan ASI. Becky yang sedang menyusui putranya sendiri, Foy, akhirnya menyusui Freddy juga.

"Rasanya wajar saja untuk dilakukan, dan tidak terasa aneh," ujar Becky seperti dikutip dari NY Post.

Sejak saat itu, kebiasaan ini berlanjut. Holly pernah tiba di rumah Becky tanpa membawa pompa ASI, lalu langsung menyusui Foy. Menurut Holly, cara ini jauh lebih praktis daripada harus membawa botol di tas perlengkapan bayi yang sudah penuh.

Selama tujuh tahun, keduanya terus saling menyusui anak masing-masing. Holly bahkan pernah menyusui putri Becky yang baru lahir, Pearl. Keduanya mengaku kebiasaan ini justru mempererat hubungan keluarga mereka.

Bukan Hal Baru dalam Sejarah

Praktik berbagi ASI atau yang dikenal sebagai wet nursing sudah ada sejak 2000 SM. Di masa lalu, ini bahkan menjadi profesi terorganisasi hingga abad ke-19, sebelum akhirnya tergantikan oleh botol dan susu formula.

Sebuah studi di jurnal JAMA pada 2025 menemukan bahwa dari hampir 2.000 ibu di Amerika Serikat, 3,7 persen melaporkan memberikan ASI dari orang lain kepada bayi mereka selama enam bulan pertama kehidupan.

Amankah Berbagi ASI dengan Bayi Lain?

Seorang perawat praktisi pediatri sekaligus konsultan laktasi bersertifikat internasional di 1 Natural Way menilai, menyusui langsung bayi orang lain tidak berbahaya selama kedua ibu terbuka soal kondisi kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, dan risiko potensial lainnya.

Namun, ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Melewatkan jadwal menyusui biasa bisa membuat payudara ibu terasa penuh dan nyeri akibat penumpukan ASI. Sebaliknya, pemberian ASI tambahan bisa memicu produksi ASI berlebih atau pembengkakan payudara saat pemberian itu dihentikan.

Risiko Potensial bagi Bayi

Obat-obatan, suplemen, dan zat tertentu dapat tersalurkan melalui ASI. Infeksi seperti HIV dan dalam kondisi tertentu virus herpes simpleks juga bisa menular lewat ASI.

Berbagi payudara juga berarti terjadi pertukaran air liur antarbayi. Hal ini berpotensi menyebarkan penyakit menular.

Kekhawatiran lain adalah kecukupan asupan bayi. "Biasanya, produksi ASI yang sudah stabil hanya cukup untuk satu bayi," kata Kreyling, konsultan laktasi tersebut. Asupan yang tidak memadai dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada bayi baru lahir.

FDA memperingatkan agar tidak memberikan ASI dari sumber mana pun yang belum melalui pemeriksaan resmi. Peringatan ini muncul setelah CDC melaporkan lima bayi di California berpotensi terpapar HIV melalui ASI yang didapat lewat media sosial pada Agustus. Penyidik akhirnya tidak menemukan bukti penularan pada bayi-bayi tersebut.

Kapan Perlu Berhati-hati

Bagi ibu yang mempertimbangkan berbagi ASI, ada baiknya mendiskusikan riwayat kesehatan dan obat-obatan yang dikonsumsi dengan pasangan atau tenaga kesehatan. Pemeriksaan menyeluruh terhadap sumber ASI sangat dianjurkan untuk mencegah risiko penularan penyakit.

Untuk bayi baru lahir, pastikan asupan ASI tetap cukup. Pemantauan berat badan dan tanda dehidrasi seperti popok yang jarang basah perlu diperhatikan.

Bagi Holly dan Becky, keputusan ini bukan soal membuat pernyataan sikap. Keduanya hanya ingin mempermudah peran sebagai ibu. "Ini sangat praktis. ASI tetaplah ASI," ujar Holly.

Sumber: haibunda.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks