Pencarian

Bayi Ternyata Bisa Menyimpan Memori, Studi Ungkap Cara Kerja Otak yang Tak Terduga

Jumat, 28 Agustus 2026 • 06:05:01 WIB
Bayi Ternyata Bisa Menyimpan Memori, Studi Ungkap Cara Kerja Otak yang Tak Terduga
Peneliti mengamati aktivitas otak bayi menggunakan teknologi pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) di Universitas Columbia.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Selama ini, para ahli meyakini bayi tidak mampu membentuk ingatan jangka panjang. Hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam mengingat kejadian spesifik pada orang dewasa, dianggap belum berkembang sempurna. Anggapan itu kini mulai terbantahkan oleh penelitian terbaru dari Universitas Columbia yang dilansir dari laman Parents.

Hipokampus memang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dewasa. Namun, bukan berarti bayi sama sekali tidak bisa menyimpan memori. Penelitian ini menunjukkan bahwa memori tertentu sebenarnya bisa masuk dan tersimpan di otak bayi.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Bayi?

Pertanyaannya, mengapa kita semua tidak bisa mengingat apa pun dari masa bayi? Para ilmuwan menduga kuat bahwa ingatan masa bayi itu sebenarnya masih ada. Hanya saja, memori tersebut sulit diakses seiring bertambahnya usia.

Bukan berarti memorinya hilang. Kemungkinan besar, ingatan itu tersimpan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kesadaran kita sekarang.

Bagaimana Para Ilmuwan Membuktikannya?

Tim peneliti menggunakan teknologi pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI untuk mengamati aktivitas otak bayi. Mereka memperlihatkan berbagai gambar seperti tempat luar ruangan, wajah manusia, dan mainan pada para partisipan kecil ini.

fMRI adalah teknologi aman yang mengukur aliran darah di otak. Saat neuron aktif, aliran darah ke area tersebut meningkat. Perubahan ini bisa terdeteksi melalui MRI.

Momen Menegangkan di Ruang MRI

Jika Mama pernah menjalani MRI, pasti tahu bahwa mesin ini bersuara cukup keras dan menuntut tubuh diam sempurna. Kondisi ini sangat sulit dilakukan bayi. Karena itu, tim peneliti mengambil pendekatan khusus yang berpusat pada kenyamanan bayi dan orangtua.

Orangtua diizinkan berada di ruangan sepanjang pemeriksaan. Bayi dibungkus dengan bantal empuk. Mereka juga membawa mainan, botol susu, selimut, hingga dot ke dalam ruangan. Bahkan, film menarik diputar untuk membuat si kecil tetap tenang.

Hasil yang Mengubah Cara Pandang tentang Ingatan Bayi

Dalam penelitian ini, bayi diperlihatkan latar belakang psikedelik untuk menarik perhatian mereka. Setelah itu, muncul serangkaian gambar baru yang belum pernah mereka lihat, seperti mainan anjing, gunung, atau wajah perempuan.

Sekitar satu menit kemudian, foto yang sama ditampilkan kembali berdampingan dengan foto baru dari kategori serupa. Hasilnya, bayi lebih lama menatap gambar yang sudah mereka lihat sebelumnya. Ini menandakan mereka mengingat gambar tersebut.

Yang lebih menarik, saat bayi menunjukkan respons mengingat, aktivitas yang lebih besar justru terdeteksi di hipokampus. Artinya, bagian otak ini memang terlibat aktif dalam pembentukan memori pada bayi, meski kemampuannya masih terbatas.

Lalu, Mengapa Orang Dewasa Lupa Ingatan Masa Bayi?

Jawaban yang paling mungkin adalah ingatan itu tidak hilang, tetapi memudar atau menjadi tidak dapat diakses seiring waktu. Otak manusia terus berkembang dan memprioritaskan memori yang relevan untuk kehidupan saat ini.

Jadi, ketika si Kecil tampak menatap sesuatu dengan penuh perhatian atau tersenyum pada wajah yang dikenalnya, bisa jadi ia sedang mengakses memori yang tersimpan rapi di otaknya. Momen-momen kecil bersama Mama mungkin lebih berarti bagi perkembangannya daripada yang kita duga.

Penelitian ini membuka wawasan baru bahwa pengalaman positif di masa bayi, sekecil apa pun, berpotensi meninggalkan jejak di otak. Stimulasi yang hangat dan konsisten dari orangtua tetap menjadi kunci tumbuh kembang optimal si kecil.

Sumber: popmama.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks