LIPUTANHARIAN.CO.ID — Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan bahwa volume penambangan bijih pada tahun depan dipatok di angka 124.000 ton per hari. Kapasitas tersebut masih berada di level 65% dari kondisi normal perusahaan yang seharusnya bisa menyentuh 200.000 ton per hari.
Dampak Longsoran September 2025 terhadap Operasional
Tekanan utama pada produksi saat ini berasal dari insiden geologis yang terjadi satu tahun sebelumnya. Longsoran material basah di area GBC tidak hanya menghentikan sementara aktivitas gali, tetapi juga merusak sejumlah peralatan pendukung vital.
"Jadi untuk tahun ini kita masih dalam kapasitas sekitar 65% dari kapasitas normal. Ini disebabkan oleh adanya longsoran material basah pada bulan September tahun yang lalu, yang juga berdampak kepada kami harus memodifikasi beberapa peralatan," ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026).
Proses modifikasi alat menjadi kunci agar penambangan dapat kembali berjalan dengan aman tanpa mengulang bencana serupa. Hal ini membuat kurva pemulihan produksi PTFI tidak langsung melonjak tajam, melainkan bertahap hingga mendekati kapasitas penuh.
Roadmap Pemulihan Produksi hingga 2030
Freeport telah menyusun peta jalan produksi yang agresif namun realistis untuk mengembalikan performa tambang ke titik puncak. Setelah 2026, volume penambangan bijih diproyeksikan naik signifikan menjadi 170.000 ton per hari pada 2027, setara dengan 75% dari kapasitas normal.
Pemulihan total diperkirakan terjadi pada 2028 dengan target volume 208.000 ton per hari, mendekati batas maksimal operasional. Bahkan, pada periode 2029 dan 2030, perusahaan optimistis mampu menembus angka lebih dari 220.000 ton bijih per hari.
Kenaikan volume bijih ini berbanding lurus dengan output logam mulia dan industri strategis lainnya. Pada 2026, konversi dari 124.000 ton bijih per hari tersebut akan menghasilkan kombinasi metal yang sangat bernilai bagi penerimaan negara dan kinerja perseroan.
Kontribusi Metal Strategis bagi Ekonomi Nasional
Produksi 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas pada 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen sumber daya alam terbesar dunia. Volume emas tersebut jika dikonversikan ke satuan metrik mencapai 21 ton dalam setahun.
"Dan ini kalau dihitung berapa metal yang akan diproduksi dari hasil bijih yang ditambang tersebut, di tahun 2026 ini kami akan bisa memproduksi 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas. 700.000 ounces emas kalau kita tonasekan itu menjadi 21 ton emas di tahun 2026 ini," tambah Tony.
Stabilisasi produksi ini krusial mengingat permintaan global terhadap tembaga terus meningkat seiring transisi energi hijau, sementara emas tetap menjadi aset lindung nilai utama. Bagi PTFI, pencapaian target ini berarti kembalinya arus kas positif setelah masa perbaikan infrastruktur pasca-bencana.