KOBA — BPBD Kabupaten Bangka Tengah menangani 166 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam kurun waktu delapan bulan terakhir. Luas area terdampak mencapai 296,72 hektare dan tersebar di sejumlah titik kecamatan.
Kondisi cuaca kering menjadi pemicu utama cepatnya perambatan api di area semak dan perkebunan warga. Dari total 210 peristiwa bencana alam maupun kecelakaan yang melanda wilayah ini, karhutla berkontribusi hingga 79 persen.
"Karhutla menjadi bencana yang paling banyak terjadi selama periode tersebut, terutama karena kondisi cuaca kemarau yang menyebabkan lahan dan vegetasi menjadi kering," kata Kepala BPBD Bangka Tengah Yudhi Sabara di Koba, Senin.
Sebaran 210 Kejadian Bencana dan Dampaknya ke Warga
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bangka Tengah mencatat rentetan bencana ini tidak hanya merusak lahan. Akumulasi insiden tersebut berdampak langsung terhadap 790 warga dan merusak 255 unit rumah di enam kecamatan.
Selain amukan karhutla, Bangka Tengah diterpa berbagai insiden lain selama periode Januari hingga September 2026, meliputi:
- 20 kejadian angin kencang
- 11 peristiwa banjir luapan
- 3 kebakaran rumah warga
- 3 kejadian krisis kekeringan air bersih
- 2 bencana banjir rob di pesisir
- 2 kecelakaan mobil
- 2 insiden kecelakaan kapal nelayan
- 1 kejadian pohon tumbang
- 1 peristiwa warga tersambar petir
Larangan Buka Kebun dengan Cara Membakar
Melihat tingginya potensi api kembali berkobar, personel BPBD bersama instansi gabungan terus menyisir area-area rawan kebakaran. Pengawasan diperketat guna memitigasi risiko api merembet ke permukiman padat.
Yudhi menegaskan bahwa pengendalian karhutla mustahil berjalan maksimal tanpa kesadaran masyarakat sekitar. Praktik pembersihan areal kebun secara instan menggunakan api dinilai sangat berbahaya saat kemarau.
"Kami mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan karena kondisi cuaca dan vegetasi yang kering dapat menyebabkan api cepat meluas," ujarnya.