SUNGAI GELAM — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut Muaro Jambi memasuki hari-hari kritis setelah api bertahan lebih dari tiga pekan. Luas lahan yang terbakar telah menembus angka hampir 100 hektare, menjadikan peristiwa ini salah satu karhutla terluas di Kabupaten Muaro Jambi pada musim kemarau tahun ini.
Kebakaran yang melanda kawasan Sungai Gelam ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengganggu aktivitas warga. Jalan-jalan di sekitar lokasi tertutup kabut asap tipis hingga pekat, memaksa pengendara melaju perlahan dan mengurangi jarak pandang secara signifikan.
Kronologi dan Luas Lahan yang Terbakar
Berdasarkan pantauan di lapangan, karhutla telah berlangsung selama 20 hari lebih sebelum tim pemadam berhasil memetakan skala penuh kerusakan. Titik api muncul di sejumlah titik di lahan gambut yang kering akibat kemarau panjang, kemudian merambat dengan cepat karena lapisan gambut yang mudah terbakar di bawah permukaan.
Data sementara mencatat luas lahan yang terbakar mencapai hampir 100 hektare. Angka ini masih berpotensi bertambah mengingat api di lahan gambut kerap muncul kembali di titik-titik yang sempat dianggap padam.
Kenapa Api Gambut Sulit Dipadamkan?
Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah gambut yang kaya serat organik kering. Kondisi ini membuat upaya pemadaman dari udara maupun darat kerap gagal total jika tidak diikuti pembasahan lapisan tanah secara menyeluruh.
Wilayah lahan gambut seperti di Sungai Gelam memiliki kanal-kanal yang sebagian besar sudah mengering. Air yang tersedia pun sulit dijangkau untuk proses penyiraman langsung ke titik api terdalam.
Pengerahan Pasukan Gabungan dan Peran Perusahaan Perkebunan
Penanganan karhutla ini melibatkan lintas instansi secara terpadu. BPBD Kabupaten Muaro Jambi menjadi koordinator utama, didukung personel TNI dan Polri yang dikerahkan untuk membantu pemadaman sekaligus pengamanan lokasi. Yang menarik, regu pemadam kebakaran (RPK) milik perusahaan perkebunan di sekitar kawasan juga turun ke lapangan. Kehadiran RPK ini menjadi krusial lantaran mereka memiliki peralatan pemadaman berat, mobil tangki air, dan personel terlatih yang bisa bergerak cepat sebelum api membesar.
Keterlibatan masyarakat sekitar pun tidak kalah penting. Warga bahu-membahu memadamkan api di area permukiman dan lahan pertanian mereka dengan peralatan seadanya, menciptakan garis perjuangan bersama melawan si jago merah.
Apa Langkah Selanjutnya?
Hingga berita ini diturunkan, upaya pemadaman masih terus dilakukan secara bertahap. Fokus utama saat ini adalah mencegah perluasan area terbakar, terutama dari permukiman warga. Tim gabungan juga disiagakan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru yang kerap kali terjadi saat angin kencang bertiup di sore hari.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran ini menjadi perhatian serius bagi dinas kesehatan setempat. Warga sekitar diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Peristiwa karhutla di Muaro Jambi ini menjadi pengingat akan rentannya ekosistem gambut di Jambi terhadap kebakaran, terutama ketika musim kemarau datang dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih sulit dihilangkan sepenuhnya.