Rupiah Tertekan ke Rp17.694 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Rupiah melemah ke Rp17.694 menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Penulis: Fadhli Usman
Selasa, 15 September 2026 | 16:23:01 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Pergerakan negatif rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga terkoreksi akibat penguatan indeks dolar AS secara global. Yuan China tercatat terdepresiasi 0,06 persen, ringgit Malaysia melemah 0,16 persen, dan dolar Singapura turun 0,18 persen.

Koreksi lebih tajam dialami yen Jepang sebesar 0,39 persen serta won Korea Selatan yang anjlok 1,08 persen. Hanya peso Filipina yang berhasil mencatatkan apresiasi tipis 0,04 persen, sementara dolar Hong Kong bergerak datar tanpa perubahan signifikan.

Faktor Eksternal Dominasi Pergerakan Kurs

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini murni didorong oleh sentimen eksternal yang kuat. Kombinasi naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi beban ganda bagi neraca transaksi berjalan Indonesia.

"Indonesia ditutup melemah terhadap dolar AS, umumnya tertekan oleh faktor eksternal dari terus naiknya indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS, dan harga minyak mentah dunia yang disebabkan oleh eskalasi di Timur Tengah, serta antisipasi kenaikan suku bunga dan sikap hawkish The Fed besok," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah turut memicu ketidakpastian pasar energi global. Kenaikan harga minyak mentah biasanya berdampak langsung pada biaya impor bahan bakar Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan dolar AS untuk pembayaran transaksi luar negeri.

Mata Uang Negara Maju Bergerak Variatif

Di kawasan negara maju, pergerakan kurs menunjukkan pola yang bervariasi namun cenderung lemah terhadap dolar AS. Euro Eropa melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun 0,19 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,19 persen.

Dolar Kanada juga mengalami tekanan tipis sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, franc Swiss justru mencatatkan penguatan 0,05 persen terhadap dolar AS, mencerminkan statusnya sebagai aset safe haven tradisional saat volatilitas pasar meningkat.

Antisipasi Rapat FOMC Besok

Pelaku bisnis dan investor kini menyoroti agenda Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar besok. Pasar memperkirakan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan atau sinyal kebijakan moneter yang ketat dari bank sentral AS.

Sikap hawkish The Fed umumnya mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor mencari yield yang lebih tinggi di instrumen berbasis dolar AS. Hal ini menciptakan tekanan jual pada rupiah di pasar spot maupun derivatif.

Bank Indonesia diprediksi akan tetap fokus pada stabilisasi nilai tukar guna menjaga ekspektasi inflasi domestik. Intervensi di pasar valas melalui cadangan devisa kemungkinan dilakukan jika volatilitas rupiah melampaui batas wajar selama periode penantian keputusan suku bunga AS.

Reporter: Fadhli Usman