Pencarian

DBS Ungkap 3 Tren Ubah Industri Otomotif, Bukan Cuma Elektrifikasi

Rabu, 16 September 2026 • 13:11:31 WIB
DBS Ungkap 3 Tren Ubah Industri Otomotif, Bukan Cuma Elektrifikasi
Direktur Institutional Banking Group DBS Antonius Sehonamin memaparkan tiga tren utama industri otomotif dalam acara diskusi bertajuk "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift".

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Bank DBS Indonesia mengidentifikasi tiga tren utama yang mengubah lanskap industri otomotif global dan nasional, melampaui sekadar elektrifikasi kendaraan. Direktur Institutional Banking Group DBS Antonius Sehonamin menyebut lokalisasi rantai pasok serta adopsi AI sebagai faktor penentu daya saing baru bagi pelaku usaha di sektor ini.

Pergeseran paradigma dalam manajemen rantai pasok menjadi salah satu sorotan utama. DBS mencatat adanya transisi dari konsep just-in-time menuju just-in-scale. Pendekatan baru ini menuntut antisipasi lebih tinggi terhadap risiko gangguan pasokan, dengan fokus pada optimalisasi inventori dan kapasitas manufaktur lokal untuk membangun resiliensi bisnis.

Tiga Pilar Daya Saing Baru

Antonius menjelaskan bahwa kapasitas produksi semata tidak lagi cukup untuk menjamin posisi kompetitif sebuah perusahaan otomotif. Dalam acara bertajuk "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS, ia memaparkan tiga tren besar yang membentuk arah industri ke depan.

  • Elektrifikasi Kendaraan: Transisi teknologi powertrain yang terus berlanjut.
  • Lokalisasi Rantai Pasok: Upaya mengurangi ketergantungan impor melalui penguatan komponen lokal.
  • Adopsi Teknologi Digital: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), data, dan otomatisasi untuk efisiensi operasional.

"Kami melihat ada transisi di industri otomotif di semua level, ada faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari elektrifikasi, affordability, economics productivity, utilisasi, dan operational efficiency," ujar Antonius dikutip Kamis (17/9/2026).

Modal Nikel dan Tembaga Belum Cukup

Indonesia memiliki keunggulan signifikan di sektor hulu berkat kekayaan sumber daya alam seperti nikel dan tembaga. Namun, Antonius menekankan bahwa modal tersebut hanya akan berdampak maksimal jika didukung oleh ekosistem hilir yang utuh. Ia menyebut pentingnya pengembangan end-to-end value ecosystem yang mencakup manufaktur canggih, produksi baterai, penyimpanan energi, hingga daur ulang.

"Untuk itu semua kami melihat bahwa ada tiga, jadi harus ada investasi, ada kapabilitas, dan harus ada pengembangan ekosistem," ungkapnya.

Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan pemain industri melakukan adaptability dan adjustment terhadap perubahan dinamika pasar. Faktor-faktor non-teknis seperti efisiensi biaya dan produktivitas kini menjadi penentu utama competitiveness di tengah volatilitas ekonomi global.

Peran Perbankan dalam Ekosistem Terintegrasi

DBS memandang industri otomotif bukan sebagai segmen terpisah, melainkan satu kesatuan ekosistem yang saling terkait. Pergeseran strategi rantai pasok mendorong kebutuhan alokasi modal yang lebih matang, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Hal ini membuka peluang bagi institusi keuangan untuk menyediakan solusi pembiayaan yang komprehensif.

Antonius menegaskan komitmen DBS untuk menjadi mitra perbankan bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sektor hulu, produsen kendaraan (OEM), distributor, hingga diler. Keunggulan konektivitas regional DBS dinilai dapat mendukung transaksi lintas negara bagi pelaku industri otomotif di Indonesia.

"Bagi DBS, kami mau jadi banking partner dari para pemain-pemain," katanya.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks