LIPUTANHARIAN.CO.ID — Gelombang panas ekstrem meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur hingga 26 persen, dan bayi di bawah satu tahun kini terpapar hari panas 389 persen lebih banyak dibanding dua dekade lalu. WHO bersama WMO, UNICEF, dan UNFPA meluncurkan indikator prioritas untuk melacak dampak panas pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan anak. Berikut rincian risikonya serta langkah yang bisa ibu lakukan.
Secara global, sekitar 1,5 miliar anak terpapar gelombang panas yang makin sering, lebih lama, dan lebih parah. Kelompok yang paling rentan bukan hanya anak-anak, tapi juga ibu hamil dan bayi baru lahir.
Apa yang Diluncurkan WHO dan Mitranya
Empat lembaga PBB merilis serangkaian indikator prioritas pertama untuk membantu negara melacak dampak kesehatan akibat panas. Kerangka kerja ini menyasar kesiapan, pemantauan, dan respons yang lebih cepat.
Negara diminta memantau kelahiran prematur, kelahiran mati, berat badan lahir rendah, hipertensi kehamilan, kematian anak, serta kunjungan ke fasilitas kesehatan selama cuaca panas ekstrem. Pemantauan kehadiran sekolah juga disarankan untuk melihat bagaimana panas mengganggu kehidupan anak.
Mengapa Ibu Hamil dan Bayi Paling Rentan
Paparan panas ekstrem dapat membahayakan kesehatan sejak masa kehamilan hingga kanak-kanak. Penelitian mencatat kenaikan 26 persen kemungkinan kelahiran prematur pada ibu yang terpapar panas tinggi.
Bayi baru lahir juga lebih mudah terpengaruh karena kemampuan mengatur suhu tubuh belum matang. Itu sebabnya pemantauan data kesehatan rutin bersama data suhu udara dinilai penting untuk mendeteksi sinyal risiko lebih awal.
Data yang Tidak Dicatat Tidak Bisa Ditanggapi
Direktur Departemen Kesehatan Seksual, Reproduksi, Ibu, Anak dan Remaja serta Penuaan WHO, Pascale Allotey, menekankan pentingnya pencatatan.
"Panas sudah memengaruhi populasi kita yang paling rentan, termasuk wanita hamil, bayi baru lahir, dan anak-anak. Tetapi apa yang tidak dihitung oleh sistem kesehatan, tidak dapat mereka tanggapi," kata Allotey.
Direktur sementara Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim, Kesehatan Terpadu, dan Migrasi WHO, Bruce Gordon, menambahkan bahwa sistem kesehatan butuh data untuk mengenali realitas ini dan mengambil tindakan.
"Seiring dunia kita terus memanas, hal itu menciptakan risiko baru bagi kesehatan, dan orang lanjut usia, wanita hamil, bayi baru lahir, dan anak-anak termasuk di antara mereka yang paling rentan untuk menghindarinya," ujar Gordon.
Langkah yang Bisa Ibu Lakukan Saat Cuaca Panas
Informasi ini membantu otoritas kesehatan memperkuat peringatan kepada ibu hamil dan keluarga. Di tingkat rumah tangga, ibu bisa memantau tanda dehidrasi, menjaga asupan cairan, dan mengurangi aktivitas luar ruang pada jam terpanas.
- Perbanyak minum air, terutama saat hamil dan menyusui.
- Kenakan pakaian tipis dan longgar pada bayi serta anak.
- Pantau tanda bahaya seperti lemas, kulit kering, atau demam tinggi.
- Ketahui jalur ke fasilitas kesehatan terdekat saat cuaca ekstrem.
Kapan Perlu ke Dokter
Segera konsultasi jika ibu hamil mengalami pusing berat, mual terus-menerus, atau kontraksi dini saat cuaca panas. Untuk bayi, waspadai tanda lemas, jarang buang air kecil, dan suhu tubuh yang tidak stabil.
WHO mendorong setiap negara menyusun rencana aksi kesehatan terkait panas yang sesuai konteks lokal. Bagi ibu, mengenali risiko sejak awal adalah langkah paling sederhana untuk melindungi diri dan anak dari bahaya yang sebenarnya bisa dicegah.