LIPUTANHARIAN.CO.ID — Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9) menyebar hingga lima provinsi: Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Dampak paling terasa ada di sektor penerbangan dengan total 2.961 penerbangan batal dan ratusan ribu penumpang terlantar.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan dampak ekonomi tidak berhenti di sektor penerbangan. Sektor pariwisata, hotel, restoran, transportasi darat, hingga UMKM di destinasi wisata menjadi yang paling cepat terpukul karena pembatalan perjalanan langsung menghapus transaksi harian.
Usaha dengan Biaya Tetap Tinggi Paling Rentan
Syafruddin menjelaskan, usaha dengan biaya operasional tetap besar tapi mengandalkan pendapatan harian akan paling cepat tertekan. Gangguan beberapa hari saja bisa berubah menjadi masalah likuiditas.
"Jika wisatawan menunda perjalanan, tingkat hunian turun, pesanan makanan berkurang, armada wisata menganggur, dan pekerja harian kehilangan pendapatan," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).
Kelompok paling rentan menurutnya adalah pekerja harian, pengemudi, pedagang kecil, pemandu wisata, pekerja restoran, pemilik homestay, dan nelayan wisata. "Mereka tetap menanggung cicilan, sewa, dan kebutuhan rumah tangga ketika pelanggan menghilang," ujarnya.
Logistik dan Inflasi: Ancaman Baru di Rantai Pasok
Dari sisi logistik, gangguan muncul lewat pembatalan penerbangan, perubahan rute, dan penumpukan barang di moda alternatif. Kargo udara untuk komoditas bernilai tinggi—obat-obatan, komponen manufaktur, dan kiriman ekspres—paling sensitif terhadap penutupan ruang udara.
"Ketika ruang udara ditutup, barang berpindah ke jalur darat atau laut, waktu tempuh bertambah, biaya penyimpanan naik, dan jadwal produksi dapat terganggu," jelas Syafruddin.
Ia menambahkan, gangguan beberapa hari masih bisa diserap stok dan fleksibilitas jaringan. Namun, jika berlangsung lebih lama, biaya logistik meningkat dan usaha kecil paling cepat terdampak karena modal kerja serta kapasitas logistiknya terbatas.
Terkait inflasi, Syafruddin menilai gangguan transportasi singkat belum otomatis memicu inflasi nasional. Meski begitu, kenaikan harga lokal tetap perlu diwaspadai, terutama pada pangan segar, obat, dan wilayah yang bergantung pada konektivitas udara.
Ancaman Jangka Panjang Bagi Pertumbuhan Ekonomi
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menambahkan, sektor perikanan juga berisiko terganggu apabila aktivitas melaut atau kualitas lingkungan laut terdampak abu vulkanik.
"Pariwisata sangat sensitif karena wisatawan cenderung menunda perjalanan ketika akses dan keamanan terganggu. Perikanan juga bisa terdampak apabila aktivitas melaut, pelabuhan, atau kualitas lingkungan laut terganggu," kata Ronny.
Dalam jangka pendek, Syafruddin menilai dampak nasional masih terbatas bila gangguan cepat mereda. Namun, efek sektoral dan regional bisa cukup tajam. "Ancaman terbesar bagi pertumbuhan bukan satu episode abu vulkanik, melainkan kegagalan mengubah kejadian berulang menjadi pembelajaran institusional," ujarnya.
Langkah Pemerintah yang Dibutuhkan
Syafruddin mendorong pemerintah mengintegrasikan informasi PVMBG, BMKG, AirNav, bandara, pelabuhan, maskapai, dan pemerintah daerah. Jalur transportasi alternatif perlu disiapkan, sementara UMKM dan pekerja informal terdampak membutuhkan dukungan sementara yang terarah.
"Ukuran keberhasilan bukan sekadar bandara kembali dibuka, melainkan seberapa cepat arus manusia, barang, pendapatan, dan kepercayaan pulih tanpa menciptakan biaya fiskal permanen," kata Syafruddin.
Erupsi berulang dalam jangka panjang berisiko meningkatkan biaya asuransi, logistik, dan premi risiko bagi destinasi wisata serta investor. Sebaliknya, perbaikan sistem peringatan, diversifikasi rute, dan ketahanan infrastruktur dapat menekan dampak permanen ke depan.