Pencarian

PDPI Ingatkan Bahaya Partikel Halus Abu Krakatau bagi Paru dan Organ Dalam

Senin, 07 September 2026 • 18:38:31 WIB
PDPI Ingatkan Bahaya Partikel Halus Abu Krakatau bagi Paru dan Organ Dalam
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengandung partikel halus PM 2.5 yang dapat menembus paru-paru dan mengganggu organ dalam.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau mengancam fungsi organ vital masyarakat di sekitar lintasan erupsi. Kandungan partikel halus PM 2.5 hingga gas sulfur dioksida berpotensi memicu kerusakan saluran pernapasan sampai risiko mati lemas atau asfiksia.

Prof Tjandra Yoga Aditama dari PDPI menerangkan bahwa material padat yang disemburkan gunung api tidak sekadar menimbulkan polusi visual, melainkan mengandung senyawa berbahaya. Masyarakat diminta membatasi mobilitas luar ruang dan menutup rapat pasokan logistik konsumsi.

Partikel Mikro PM 2.5 Menembus Kantung Udara Paru-Paru

Dampak paling fatal terjadi pada sistem respirasi. Abu vulkanik memuat partikel sangat halus atau particulate matter 2.5 (PM 2.5) yang mampu menembus mekanisme filtrasi hidung hingga masuk ke alveolus atau kantung udara paru-paru.

Kondisi ini memicu batuk kering, radang tenggorokan hebat, sampai peradangan dinding bronkus atau bronkitis. Bagi warga yang memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis maupun asma, paparan mikropartikel ini langsung memicu pemburukan kondisi klinis secara mendadak.

Ancaman Asfiksia dan Senyawa Gas Sulfur Dioksida

Kepadatan abu di area sekitar pusat erupsi memicu risiko fatal berupa asfiksia. Pasokan oksigen terblokir material debu pekat, menyebabkan korban merasakan sensasi tercekik hebat hingga gagal napas mendadak di zona paparan tinggi.

Selain material padat, embusan gunung api melontarkan gas berbahaya jenis sulfur dioksida. Gas asam ini menimbulkan pusing parah, sakit kepala terus-menerus, dan mempercepat pembengkakan saluran napas atas pada warga yang menghirup udara tanpa pelindung memadai.

Iritasi Eksternal dan Jalur Penularan Melalui Rantai Makanan

Paparan partikel tajam abu vulkanik pada permukaan luar tubuh memicu radang kulit gatal dan pedih. Pada organ penglihatan, gesekan debu berpotensi merusak selaput lendir mata hingga berujung peradangan atau konjungtivitis akut.

Bahaya lain bergerak lewat jalur pencernaan. Hujan abu kerap mengotori wadah penampungan air bersih serta bahan pangan terbuka yang jika sampai tertelan memicu gangguan pencernaan dan infeksi lambung.

Merespons temuan klinis tersebut, Tjandra meminta warga yang berada di lintasan sebaran material vulkanis untuk menahan diri dari aktivitas luar ruangan serta memastikan sumber cadangan air minum tersimpan dalam kondisi steril tertutup rapat.

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks