Pencarian

Keluar dari PNS, Zulhas Raup Cuan Setara Rp1 Miliar per Bulan Sejak 1985

Sabtu, 05 September 2026 • 18:01:31 WIB
Keluar dari PNS, Zulhas Raup Cuan Setara Rp1 Miliar per Bulan Sejak 1985
Zulkifli Hasan menyampaikan pengalaman pasca-meninggalkan profesi PNS dalam forum Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9).

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Karier birokrasi di instansi pemerintah kerap dipandang sebagai zona nyaman ekonomi bagi sebagian besar masyarakat. Namun, jalan berbeda diambil Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang memilih putar haluan dari aparatur sipil negara menjadi pelaku usaha swasta.

Berbicara dalam forum Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9), Zulhas menceritakan titik balik finansialnya bermula ketika ia merasa gaji sebagai abdi negara di Kementerian Pertanian hanya cukup untuk membiayai kebutuhan rutin harian. Kala itu, kementerian tempatnya bekerja masih membawahi sektor kelautan serta kehutanan.

"Tahun '83, '84, '85, tahun '85 kira-kira saya sudah punya penghasilan kalau uang sekarang Rp1 miliar 1 bulan. Tahun '85," ungkap Zulhas, dikutip dari Detikfinance.

Ekspansi Dagang ke Hong Kong dan Korea Selatan

Lonjakan pendapatan tersebut bukan datang mendadak, melainkan hasil dari penetrasi pasar regional. Menginjak pertengahan dekade 1980-an, Zulhas muda telah aktif menjalankan aktivitas perdagangan internasional lintas negara.

Pasar Asia Timur menjadi target utama ekspansi niaganya. Ia rajin melawat ke sejumlah pusat perdagangan demi merajut rantai pasok dan memperluas relasi bisnis luar negeri.

"Tahun '85 saya sudah dagang sama Tiongkok, saya sudah dagang sama Korea Selatan, Seoul bolak-balik, saya sudah ke Taiwan, sudah dagang sama Hong Kong dan lain-lain. Tahun '86 saya sudah punya rumah, ada 4 biji," tuturnya.

Aset properti tersebut menjadi bukti likuiditas bisnisnya yang solid pada masa itu, jauh melampaui rata-rata pencapaian pemuda seusianya.

Riset Pasar Mester dan Fondasi Ilmu Pemasaran

Langkah terjun ke dunia usaha sejatinya dipicu oleh observasi lapangan yang ia lakukan di Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta Timur. Di pusat perputaran uang kawasan timur ibu kota tersebut, Zulhas mengamati dinamika perdagangan para saudagar keturunan Tionghoa.

Pengamatan empiris itu melahirkan tekad untuk membongkar rahasia akumulasi kapital. Ia lantas mengonsumsi literatur bisnis dan memperdalam kecakapan teknis lewat pendidikan nonformal.

"Singkat cerita, saya punya gambaran. Habis itu saya mulai baca buku, bagaimana jadi orang punya, bagaimana jadi orang punya uang, bagaimana jadi orang kaya. Baca, kemudian saya ikut beberapa kursus. Yang saya pilih akhirnya marketing," ucapnya.

Pilihan mendalami strategi pemasaran terbukti menjadi motor penggerak bisnisnya, terutama dalam membaca peluang pasar komoditas ekspor-impor.

Modal Perhiasan Ibu dan Tiket Merantau

Perjalanan Zulhas menuju panggung bisnis nasional bermula dari kenekatan menolak jalur yang disiapkan sang ayah. Semula, ia mengenyam pendidikan di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Bandar Lampung dan diproyeksikan melanjutkan studi ke Mesir untuk menjadi ulama.

"Saya kesulitan pelajaran Bahasa Arab. Asal belajar Bahasa Arab, saya bolos. Ada dua pelajaran yang saya bolos. Satu pelajaran Bahasa Arab, satu pelajaran menyanyi. Saya daftar SMA 1, tapi orang tua saya nggak setuju. Alasannya ya saya mesti jadi ustaz. Ayah saya ingin jadi kiai anaknya seperti Buya Hamka. Saya dari PGA mau dikirim ke Mesir," kata Zulhas.

Meski sang ayah sempat marah, restu tetap mengalir dari sang ibu. Bermodalkan perhiasan keluarga yang dicairkan, ia merantau ke Jakarta tanpa koneksi bisnis sama sekali.

"Saya nggak pernah tahu Jakarta, nggak pernah ke Jakarta. Tidak ada kenalan di Jakarta, tapi ibu saya mendukung. Ibu saya kasih saya kalung, kasih saya cincin. Dia punya cincin bukan berlian, dulu intan namanya. Terus saya dikasih gelang. Modal itulah merantau ke Jakarta," kenang Zulhas.

Setelah gagal masuk fakultas kedokteran pasca-SMA dan sempat mencicipi rutinitas PNS, bekal literasi dagang dan jejaring global akhirnya melambungkan posisinya sebagai pengusaha mapan pada dekade 1980-an.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks