Pencarian

Stok Beras Bulog Turun ke 4,72 Juta Ton Akibat Penyaluran Bantuan Pangan

Selasa, 15 September 2026 • 08:24:02 WIB
Stok Beras Bulog Turun ke 4,72 Juta Ton Akibat Penyaluran Bantuan Pangan
Stok beras Bulog tercatat turun menjadi 4,72 juta ton akibat penyaluran bantuan pangan Februari–Maret.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Penurunan volume gudang bukan indikasi kelangkaan, melainkan hasil dari strategi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui distribusi besar-besaran. Data terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar stok yang keluar berasal dari skema bantuan sosial yang menyasar puluhan juta keluarga.

Beban Distribusi Bantuan Pangan Februari-Maret

Rizal menjelaskan bahwa angka 4,722 juta ton merupakan sisa riil yang tersimpan di gudang Bulog saat ini. "Sekarang yang ada di gudang sudah turun. Yang kemarin 5,4 juta ton, sekarang tinggal 4,722 juta ton," kata Rizal kepada awak media.

Faktor utama penyusutan ini adalah realisasi program bantuan pangan periode Februari hingga Maret. Skema tersebut melibatkan 33,2 juta penerima manfaat dengan mekanisme pemberian dua kali selama periode tersebut.

"Kenapa angkanya jadi turun? Karena sudah banyak untuk bantuan pangan bulan Februari-Maret itu sebanyak 33,2 juta penerima manfaat dikali dua, itu lebih kurang sekitar 600.000 ton," jelas Rizal merinci hitungan matematis di balik penurunan stok.

Konteks Ketahanan Pangan Nasional

Di tengah dinamika iklim global, pemerintah memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman meski terjadi fluktuasi produksi. Sebelumnya, Menteri Pertanian telah menyatakan bahwa dampak El Nino terhadap lahan pertanian nasional masih terkendali sehingga pasokan tidak mengalami gangguan signifikan.

Sementara itu, posisi Indonesia sebagai eksportir bersih juga turut memengaruhi manajemen stok korporasi. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyoroti pencapaian Indonesia sebagai eksportir beras dan jagung pada forum KTT BRICS 2026, sebuah sinyal kuat bahwa surplus produksi domestik mampu menopang kebutuhan ekspor sekaligus cadangan strategis negara.

Kombinasi antara tingginya serapan pasar melalui program SPHP dan komitmen ekspor menjadikan pengelolaan stok Bulog kini berada pada fase aktif, bukan sekadar penyimpanan pasif. Hal ini menuntut koordinasi ketat antara hulu produksi dan hilir distribusi agar harga di tingkat konsumen tetap stabil.

Sumber: inews.id

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks