LIPUTANHARIAN.CO.ID — Di tengah penanganan bencana di NTT, ketersediaan bahan pangan menjadi isu krusial yang bisa memengaruhi kondisi sosial warga. Bulog menegaskan komitmennya dengan menyiagakan stok beras dalam jumlah besar, bukan hanya untuk kebutuhan darurat jangka pendek, tetapi juga untuk skema bantuan sosial berkelanjutan.
Kepala Stok Siaga dan Kebutuhan Pangan, Ahmad Rizal Ramdhani, dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (23/8), menyebutkan bahwa total 93.782 ton beras telah disiapkan. Jumlah ini merupakan kombinasi dari stok yang tersimpan di gudang-gudang Bulog wilayah NTT dan pasokan yang dimobilisasi dari daerah lain.
Dari Mana Saja Pasokan Beras Tersebut?
Stok lokal Bulog di NTT tercatat sebanyak 26.336 ton. Untuk memperkuat cadangan, Bulog menggerakkan logistik dari sejumlah kantor wilayah (Kanwil), termasuk DKI Jakarta-Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan total movement nasional (Movenas) mencapai 67.446 ton.
“Bulog menyiagakan stok beras sebanyak 93.782 ton untuk mendukung penanganan bencana di NTT. Stok tersebut berasal dari ketersediaan beras di wilayah NTT dan dukungan mobilisasi dari wilayah lain,” ujar Rizal. Ia menambahkan, “Dalam situasi bencana, kecepatan dan ketepatan distribusi menjadi sangat penting agar kebutuhan pangan masyarakat dapat segera dipenuhi.”
Kebutuhan Pangan untuk 150 Ribu Jiwa dan Bantuan Sosial
Perhitungan kebutuhan pangan di NTT disusun secara rinci oleh Bulog. Untuk masa tanggap darurat 14 hari, Bulog memproyeksikan kebutuhan beras mencapai 1.890 ton, dengan asumsi 150.576 jiwa terdampak. Bulog juga menyiapkan tambahan pasokan hingga 18.900 ton jika masa darurat diperpanjang hingga sepuluh kali lipat.
Selain untuk korban bencana, stok ini juga dialokasikan untuk program Bantuan Pangan pemerintah. Sebanyak 852.631 penerima bantuan pangan (PBP) dijadwalkan menerima jatah 10 kilogram (kg) beras per bulan selama tiga bulan ke depan. Total kebutuhan untuk program ini mencapai 25.578 ton.
Secara keseluruhan, proyeksi kebutuhan beras di NTT mencapai 46.368 ton. Dari angka tersebut, Bulog masih memiliki ruang stok sekitar 47.414 ton sebagai cadangan antisipasi. “Kami tidak hanya menghitung kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan ruang stok untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan. Prinsipnya, masyarakat terdampak bencana tidak boleh mengalami kesulitan mendapatkan pangan,” tegas Rizal.
Stok Nasional Masih Tebal
Ketahanan pangan nasional juga berada dalam kondisi solid. Per 22 Agustus 2026, total stok beras Bulog secara nasional tercatat mencapai 5.170.098 ton. Cadangan sebesar ini menjadi modal utama bagi Bulog untuk terus melakukan mobilisasi beras ke daerah-daerah yang membutuhkan, termasuk NTT.
Bulog memastikan koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta instansi terkait terus berjalan intensif. Hal ini dilakukan untuk memastikan rantai pasok mulai dari mobilisasi, penyimpanan, hingga penyaluran beras ke tangan warga terdampak berjalan efektif dan tepat sasaran.
Dengan cadangan nasional yang tebal dan skema distribusi yang terukur, Bulog optimistis kebutuhan pangan warga NTT selama masa pemulihan dapat terpenuhi tanpa hambatan berarti.