JAKARTA, LIPUTANHARIAN.CO.ID — Tim SAR gabungan mengevakuasi 113 orang dari KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, dengan rincian 107 selamat dan 6 meninggal dunia. Sebanyak 130 penumpang lainnya masih dalam proses pencarian yang berlangsung hingga Senin pagi. Kapal rute Surabaya-Banjarmasin itu diduga dihantam ombak tinggi akibat cuaca buruk.
Operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban KM Virgo Transport 8 masih berlanjut. Basarnas mengerahkan 15 armada laut dan udara dari unsur gabungan untuk menyisir lokasi kejadian di perairan Masalembo.
Armada tersebut terdiri dari 11 kapal, 1 helikopter, dan 3 pesawat. Unsur yang terlibat antara lain KN SAR Laksamana (Basarnas), KRI Nala (TNI Angkatan Laut), KN Kunyit (Distrik Navigasi), TB Mahausaha 9, TB TCP, MP Haida, kapal dari Pelindo, serta 3 kapal Polri.
Penumpang yang berhasil dievakuasi dibawa ke dua pelabuhan berbeda. Sebagian ke Pelabuhan Tuban, Jawa Timur, sebagian lain ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di Pelabuhan Trisakti, keluarga korban berkumpul menanti kabar.
Kapal Miring Cepat Tanpa Alarm Sebelum Tenggelam
KM Virgo Transport 8 bertolak dari Pelabuhan Surabaya pada Sabtu, 12 September 2026 pukul 10.33 WIB. Kapal membawa total 243 penumpang dengan tujuan Banjarmasin.
Kontak dengan kapal terputus di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu, 13 September 2026 pukul 02.00 WITA. Menurut kesaksian penumpang selamat, kapal tiba-tiba miring cepat ke kiri tanpa alarm atau pemberitahuan.
Kapal kemudian tenggelam. Dugaan awal, kapal dihantam ombak setinggi lebih dari 2 meter akibat cuaca buruk.
Menhub Pastikan Investigasi Menyeluruh via KNKT
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah akan menginvestigasi kecelakaan ini secara menyeluruh. Investigasi dilakukan melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Tujuannya memastikan penyebab kecelakaan secara objektif. Hasil investigasi akan menjadi dasar evaluasi dan pencegahan kejadian serupa.
Data korban yang dirilis Senin pagi masih bisa berubah. Pencarian yang belum tuntas membuka kemungkinan jumlah selamat bertambah atau temuan lain di lapangan.
Jasa Raharja Jamin Santunan Rp50 Juta untuk Ahli Waris
PT Jasa Raharja memastikan santunan meninggal dunia sebesar Rp50 juta diserahkan kepada ahli waris yang sah. Untuk korban luka yang menjalani perawatan, Jasa Raharja menjamin biaya perawatan maksimal Rp20 juta per korban.
Jaminan perawatan berlaku di RSUD Ulin, RS TPT, dan RS Sultan Suryansyah. Direktur Utama Jasa Raharja Muhammad Awaluddin turun langsung ke lapangan memastikan proses pendataan dan verifikasi berjalan cepat.
Gubernur Kalimantan Selatan juga memerintahkan rumah sakit memprioritaskan penanganan korban. Hingga Senin pagi, tim SAR gabungan belum mengumumkan kapan operasi pencarian akan dihentikan.
Data Resmi Terbaru (Senin Pagi, 14 September 2026)
| Rute | Surabaya – Banjarmasin |
| Total penumpang | 243 orang |
| Berangkat | Sabtu, 12 September 2026, 10.33 WIB dari Pelabuhan Surabaya |
| Hilang kontak | Minggu, 13 September 2026, 02.00 WITA di perairan Masalembo, Laut Jawa |
| Selamat (dievakuasi) | 107 orang |
| Meninggal dunia | 6 orang |
| Masih dalam pencarian | 130 orang |
| Armada SAR | 15 unit (11 kapal, 1 helikopter, 3 pesawat) |
Unsur SAR yang Terlibat
- KN SAR Laksamana (Basarnas)
- KRI Nala (TNI Angkatan Laut)
- KN Kunyit (Distrik Navigasi)
- TB Mahausaha 9, TB TCP, MP Haida
- Kapal Pelindo dan 3 kapal Polri
Sebagian penumpang yang dievakuasi dibawa ke Pelabuhan Tuban, Jawa Timur, sebagian lain ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin — tempat keluarga korban berkumpul menanti kabar.
Santunan Jasa Raharja
- Santunan meninggal dunia: Rp50 juta per korban, diserahkan kepada ahli waris yang sah
- Jaminan biaya perawatan: maksimal Rp20 juta per korban, ditanggung di RSUD Ulin, RS TPT, dan RS Sultan Suryansyah
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan.
Data korban masih dapat berubah karena proses pencarian masih berlangsung.