Nditak Matah dan Ndelabakh Manuk: Dua Kuliner Aceh Singkil yang Kini Masuk Pelajaran Sekolah

Siswa SMA Negeri 1 Gunung Meriah mengikuti festival kuliner khas Aceh Singkil, Nditak Matah dan Ndelabakh Manuk, di lingkungan sekolah.
Penulis: Saifuddin Wahid
Selasa, 08 September 2026 | 12:21:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Di tengah gempuran makanan siap saji dan kuliner modern yang kian masif, sebuah sekolah di Aceh Singkil memilih jalan berbeda. Melalui festival dan perlombaan antar kelas, SMA Negeri 1 Gunung Meriah memperkenalkan dua hidangan khas daerah yang mungkin asing di telinga generasi muda: Nditak Matah dan Ndelabakh Manuk.

Belajar Memasak, Bukan Sekadar Mencicipi

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Gunung Meriah, Ridwansyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang lebih dalam dari sekadar pameran makanan. "Para siswa tidak hanya sekadar mencicipi kelezatannya, namun mereka juga dibekali edukasi mengenai cara memasak dan membuat serta sejarah asal-usul serta nilai gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut," ujarnya kepada wartawan, Senin (7/9/2026).

Dengan begitu, para siswa tidak hanya menjadi penikmat kuliner, tetapi juga memahami proses dan filosofi di balik setiap bahan yang digunakan.

Lebih dari Sekadar Makanan, Ini Simbol Peradaban

Langkah sekolah ini merupakan respons nyata atas tergerusnya warisan kuliner lokal oleh makanan modern. Pihak sekolah menilai, pengenalan ini penting untuk membuka wawasan siswa bahwa makanan tradisional bukanlah komoditas konsumsi semata.

Ridwansyah menambahkan, kuliner tradisional adalah simbol peradaban dan sejarah luhur suatu daerah. Dengan mengenal ciri khas daerahnya sendiri, siswa diharapkan memiliki rasa bangga dan tanggung jawab untuk melestarikannya.

Warisan Budaya Tak Benda yang Harus Dijaga

Menariknya, Nditak Matah dan Ndelabakh Manuk bukanlah hidangan sembarangan. Keduanya telah resmi tercatat sebagai Kuliner Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Aceh Singkil.

Pengakuan ini menegaskan bahwa dua hidangan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi masyarakat setempat. Inisiatif SMA Negeri 1 Gunung Meriah ini menjadi contoh bagaimana dunia pendidikan bisa berperan aktif dalam menjaga warisan budaya dari ancaman kepunahan—dimulai dari mengenalkannya kepada generasi penerus.

Reporter: Saifuddin Wahid