Gunung Anak Krakatau Siaga, Abu Tebal Hujani Rumah Warga Menes Pandeglang
PANDEGLANG — Paparan abu vulkanik pekat imbas peningkatan erupsi Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda mulai berdampak langsung ke area permukiman daratan Banten, tepatnya di wilayah Menes, Pandeglang. Endapan debu yang tebal memaksa warga setempat membersihkan teras dan halaman rumah mereka secara berulang.
Kondisi ini terjadi seiring naiknya intensitas letusan gunung api aktif tersebut sejak Jumat (4/9) malam hingga saat ini.
Warga Menes Sapu Abu Tiap Tiga Jam
Di Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes, tebalnya sebaran debu vulkanik yang menempel di lantai membuat warga harus bekerja ekstra menjaga kebersihan tempat tinggal mereka.
"Kami setiap tiga jam menyapu lantai di halaman rumah yang terdapat debu abu vulkanik," kata Titin, salah seorang warga setempat.
Meski sebaran abu telah mencapai daratan permukiman, otoritas pemantau memastikan aktivitas vulkanik ini belum mengarah pada ancaman tsunami di pesisir Selat Sunda.
PVMBG: Status Level III Siaga, Ancaman Tsunami Sangat Minim
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Serang, Muhammad Dika Nurzaman menjelaskan bahwa status aktivitas vulkanik saat ini berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat di pesisir diminta tidak panik menghadapi kabar miring mengenai gelombang tinggi.
Menurut Dika, potensi ancaman gelombang pasang tercatat sangat minim karena volume tubuh gunung saat ini masih tergolong kecil. Potensi tsunami dipastikan sangat kecil atau bahkan nyaris nihil.
"Kami minta masyarakat agar tenang dan tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," kata Muhammad Dika Nurzaman.
Zona Larangan Radius 3 Kilometer untuk Nelayan dan Wisatawan
Kewaspadaan tinggi tetap ditekankan pada ancaman material letusan di sekitar kawah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan jarak aman ketat sejauh tiga kilometer dari titik erupsi.
Kepala Pelaksana BPBD PK Kabupaten Pandeglang Riza Ahmad menegaskan, nelayan dan masyarakat umum dilarang keras melintas atau mendekati area tersebut karena lontaran batu pijar sangat berisiko mencelakai siapa pun di sekitarnya.
"Kami hingga kini melakukan monitoring dan koordinasi dengan instansi terkait perkembangan peningkatan erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Riza Ahmad.
Pemkab Pandeglang memastikan jajaran penanggulangan bencana tetap bersiaga memantau dinamika aktivitas vulkanik sembari mengimbau warga agar hanya merujuk pada pembaruan informasi resmi pemerintah.