Bandara Soekarno-Hatta Sempat Ditutup Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Sebanyak 33 jadwal penerbangan internasional dan lima rute domestik terganggu menyusul penutupan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta selama empat jam akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kementerian Perhubungan memastikan lalu lintas udara kini telah beroperasi normal kembali setelah pemeriksaan terbaru menunjukkan area landasan steril dari debu vulkanis. Otoritas penerbangan tetap berkoordinasi intensif dengan penyedia navigasi dan operator bandara untuk mengantisipasi potensi perubahan situasi.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menegaskan aspek proteksi penerbangan tidak dapat ditawar dalam kondisi tersebut.
"Keselamatan tetap jadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional termasuk penyesuaian jadwal penerbangan oleh maskapai," ujar Lukman F Laisa.
Daftar Rute Internasional dan Domestik Terdampak
Selama empat jam penutupan dari pukul 01:30 hingga 05:30 WIB, gangguan jadwal penerbangan terjadi cukup masif pada rute mancanegara. Otoritas mencatat 16 penerbangan internasional dibatalkan, 7 penerbangan ditunda, dan 5 lainnya terpaksa dijadwalkan ulang.
Gangguan arus lintas batas negara ini mencakup jadwal penerbangan menuju dan dari kota-kota berikut:
- Singapura
- Hong Kong
- Sydney
- Seoul/Incheon
- Doha
- Amsterdam
- Kuala Lumpur
Sektor penerbangan domestik ikut mengalami hambatan teknis akibat situasi tersebut. Tercatat empat penerbangan dibatalkan dan satu penerbangan dialihkan, melingkupi rute perjalanan Lampung, Denpasar, serta Surabaya.
Hasil Pemantauan Terkini dan Imbauan Penumpang
Kondisi ruang udara di atas bandara dinyatakan membaik pascapemeriksaan lanjutan. Pengamatan paper test VA mutakhir memastikan abu vulkanik sudah tidak lagi terdeteksi di kawasan bandara, dengan jarak sebaran abu vulkanik berada sekitar 31,4 kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta.
Meski jalur penerbangan sudah dibuka kembali, otoritas tetap mengimbau calon penumpang memantau pembaharuan informasi langsung dari pihak maskapai. Penyesuaian waktu keberangkatan dinilai penting mengingat penumpukan armada sempat memicu pergeseran jam terbang.
Ditjen Perhubungan Udara terus memantau situasi serta berkoordinasi secara intensif bersama BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, dan maskapai penerbangan demi menjaga kelancaran operasi angkutan udara ke depan.
Hingga kini, aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya mereda. Gunung api tersebut masih berstatus Level III Siaga dengan penetapan radius bahaya sejauh 3 kilometer dari kawah aktif.