MODIS NASA Deteksi Ribuan Titik Panas di Kalimantan, Kebakaran Gambut Lepaskan Polusi 3 Kali Lipat
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kebakaran lahan gambut di Indonesia kembali menjadi sorotan internasional setelah badan antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit yang memperlihatkan hamparan asap menutupi wilayah Kalimantan. Data dari sensor Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang diunggah melalui portal Science.nasa.gov mengonfirmasi musim kebakaran tengah berlangsung intensif di kawasan tersebut.
Polusi dari Gambut Jauh Lebih Berbahaya dari Kebakaran Hutan Biasa
Kebakaran gambut tropis memiliki karakteristik yang membuatnya jauh lebih mencemari udara dibandingkan kebakaran hutan di lahan mineral. Api pada lapisan gambut membara pada suhu rendah dan merambat di bawah permukaan tanah, menjadikannya sangat sulit dipadamkan serta berlangsung dalam waktu lama.
Perkiraan para ilmuwan menunjukkan kebakaran lahan gambut menghasilkan partikulat halus tiga kali lebih banyak ketimbang kebakaran hutan tropis lainnya. Emisi sulfur dioksida tercatat lima kali lebih tinggi, sementara karbon organik tiga kali lipat. Kandungan metana dan karbon monoksida yang dilepaskan juga dua kali lebih besar dari kebakaran hutan konvensional.
Bara di Bawah Permukaan: Mengapa Gambut Sulit Dipadamkan
Kebakaran terjadi pada tanah lahan basah yang telah mengering, menciptakan kondisi ideal bagi api untuk menjalar jauh ke dalam lapisan gambut. Pada kedalaman tertentu, bara api bertahan tanpa terlihat dari permukaan, kemudian muncul kembali di titik lain ketika kondisi mendukung.
Karakteristik inilah yang menyebabkan kebakaran gambut kerap berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Upaya pemadaman dari udara dengan water bombing sering kali hanya menjangkau api di permukaan, sementara bara di lapisan bawah terus aktif dan memicu titik api baru.
Satelit Aqua milik NASA merekam kejadian ini pada 1 September 2026. Satu piksel deteksi kebakaran dalam citra MODIS dapat mewakili lebih dari satu titik api aktual di lapangan, mengindikasikan konsentrasi kebakaran yang lebih luas dari yang terlihat dalam peta.
Musim Kemarau dan Risiko Karhutla Berkelanjutan
Fenomena ini menegaskan kembali ancaman tahunan kebakaran hutan dan lahan yang membebani Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga setempat melalui gangguan kesehatan akibat kabut asap, tetapi juga menjadi sorotan negara tetangga yang turut menerima kiriman polusi lintas batas.
Masyarakat di sekitar lokasi kebakaran berisiko terpapar partikulat halus yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data emisi yang dirilis NASA menunjukkan tingkat bahaya yang lebih serius dibandingkan kebakaran hutan biasa, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari otoritas terkait mengenai langkah penanganan kebakaran di Kalimantan. Yang jelas, kebakaran gambut yang terdeteksi satelit ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi signifikan pada pengelolaan lahan basah, siklus kabut asap tahunan berisiko terus berulang.