City Borong Pemain, Kegilaan Uang Premier League Makin Tak Terkendali

Aktivitas transfer klub-klub Premier League pada bursa musim panas 2026 mencatatkan total belanja yang menembus rekor baru.
Penulis: Mahsyar Hamdani
Kamis, 03 September 2026 | 04:07:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Jendela transfer musim panas 2026 ditutup dengan rentetan angka yang sulit dicerna akal sehat. Aston Villa ikut merombak skuadnya dan tercatat meraup keuntungan bersih £56,7 juta dari aktivitas transfer. Di sisi lain, total belanja klub-klub Premier League menembus rekor — tetapi tidak seorang pun bisa menjelaskan apa arti sebenarnya angka-angka tersebut.

Ada semacam ilusi bahwa membeli lebih banyak berarti lebih dekat dengan kesuksesan. Namun, transfer di kompetisi ini kini bergerak seperti pasar uang yang kehilangan kaitan dengan realitas lapangan.

Chelsea Buktikan: Boros Bukan Jaminan, tapi Tetap Cuan

Kasus Chelsea pada era kepemilikan Clearlake jadi contoh paling gamblang. Empat tahun lalu, klub memulai belanja gila-gilaan dengan harapan membangun fondasi jangka panjang. Hasilnya? Chelsea gagal menembus Liga Champions dan telah melalui lima manajer permanen.

Meski begitu, Enzo Fernández tetap bisa dijual dengan untung. Bahkan Mykhailo Mudryk, yang sempat dilarang bermain karena gagal tes doping, masih dianggap sebagai aset yang berpotensi mendatangkan cuan. Pada fase awal kepemimpinan Todd Boehly, Chelsea diperkirakan menghabiskan sekitar £200 juta untuk biaya transfer, gaji, dan berbagai pengeluaran lain. Kini hanya dua pemain yang tersisa: Malo Gusto dan Wesley Fofana.

Tidak ada kerugian besar yang benar-benar dirasakan. Pasar terus menyerap pemain, dan uang mengalir balik lewat penjualan.

Belajar dari Acara Properti: Renovasi Tak Penting

Situasi ini mengingatkan pada hasil studi soal acara TV properti "Location, Location, Location". Dalam studi itu, harga rumah selalu naik pada era booming awal 2000-an, apa pun yang dilakukan pemiliknya — termasuk merombak total atau bahkan membiarkan rumah kosong selama bertahun-tahun.

Pembeli rumah berpikir renovasi dan desain menentukan keuntungan, padahal bukan itu yang berperan. Pola yang sama tampak di Premier League: klub boleh belanja sebanyak apa pun, tetapi yang paling menentukan adalah berada di dalam sistem kompetisi itu sendiri.

Kegembiraan Irasional yang Tak Bisa Diukur

Mantan Ketua Federal Reserve AS, Alan Greenspan, pernah menyebut fenomena serupa dalam pidato tentang misteri uang besar. "How do we know when irrational exuberance has unduly escalated asset values, which then become subject to unexpected and prolonged contractions?" ujarnya saat itu.

Hingga hari ini, pertanyaan itu tetap menggantung tanpa jawaban. Nilai pemain melambung, belanja klub membengkak, tetapi tidak ada yang tahu kapan gelembung itu akan pecah. Mereka yang berada di dalam lingkaran keuangan ini menikmati keuntungan, sementara pihak luar yang akhirnya menanggung risikonya.

Absurditas yang Menjadi Tontonan

Kegilaan itu semakin terlihat pada program penutupan jendela transfer di Sky Sports. Seorang pria tampil memetik gitar dengan senyum ganjil, menyanyikan lagu tentang Bradley Barcola yang pindah ke Liverpool dengan nada "Don't Dream It's Over". Seolah semua kejadian ini adalah hal yang normal.

Namun, tidak ada yang normal lagi. Transfer Premier League telah melampaui logika pembangunan tim dan berubah menjadi sirkus finansial yang harus dinikmati — sebelum akhirnya, mungkin, ditagih di kemudian hari.

Reporter: Mahsyar Hamdani