Kabut Asap Karhutla Selimuti Desa Rimbo Panjang Kampar, Lansia 60 Tahun Terpaksa Jual Kerupuk di Tengah Titik Api
KAMPAR — Kondisi memprihatinkan tengah melanda Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyelimuti permukiman warga selama lebih dari sepekan terakhir, memaksa penduduk untuk berbagi ruang dengan udara yang tercemar demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nurhayati, seorang perempuan berusia 60 tahun, menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana warga berjuang di tengah bencana asap. Ia tetap menjemur kerupuk untuk bahan dagangannya, meskipun jarak antara rumahnya dan titik api yang membakar lahan hanya sekitar 20 meter. Mata perih dan sesak napas menjadi risiko yang tak terhindarkan.
Lahan Gambut Terbakar, Petugas Kewalahan Padamkan Api
Kebakaran lahan di Desa Rimbo Panjang disebut terus meluas. Cuaca panas yang ekstrem ditambah minimnya sumber air membuat petugas pemadam kebakaran kewalahan menjinakkan bara api yang membakar lahan gambut.
Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga berpotensi memperparah kualitas udara di wilayah Riau dan sekitarnya. Asap tebal yang dihasilkan dari pembakaran lahan gambut diketahui mengandung partikel halus yang berbahaya bagi saluran pernapasan.
Karhutla Meluas ke Tujuh Provinsi, Kasus ISPA Melonjak
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan di Riau. Kementerian Kesehatan mencatat sebaran titik api di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kabut asap yang dihasilkan telah memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara signifikan di berbagai daerah.
Di Kalimantan Tengah, angka kasus ISPA meningkat drastis dalam sepekan terakhir. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lonjakan dari 402 kasus menjadi 716 kasus pada periode 14–21 Agustus 2026, atau bertambah 314 kasus hanya dalam tujuh hari.
Puskesmas Catat Lonjakan Pasien ISPA, Didominasi Anak-Anak
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dampak kesehatan akibat karhutla juga mulai terlihat. Puskesmas Liang Anggang mencatat adanya peningkatan kasus ISPA hingga 10 persen. Total pasien yang tercatat pada Agustus 2026 mencapai 174 orang, dengan kelompok yang paling rentan adalah anak-anak.
Meningkatnya jumlah pasien ISPA ini menjadi indikator bahwa kabut asap telah masuk ke permukiman padat penduduk dan mengancam kelompok rentan, seperti balita dan lansia. Kualitas udara yang buruk dalam waktu lama dapat memicu gangguan pernapasan kronis.
Polri Tetapkan 72 Tersangka Kasus Karhutla
Di tengah upaya pemadaman dan penanganan dampak kesehatan, aparat penegak hukum juga bergerak untuk menindak pelaku pembakaran lahan. Polri menetapkan 72 tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana karhutla berdasarkan hasil penyidikan di sembilan Polda.
Langkah hukum ini diharapkan memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang sengaja membakar lahan, baik untuk kepentingan pembukaan lahan pertanian maupun perkebunan, yang menjadi pemicu utama bencana asap tahunan di Indonesia.