PEKANBARU — Lonjakan titik panas di Pulau Sumatera terjadi hampir merata dan menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diwaspadai. Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, menyebut peningkatan ini terjadi di hampir seluruh wilayah Sumatera sehingga perlu menjadi perhatian berbagai pihak.
"Total titik panas di wilayah Sumatera pada Minggu pagi mencapai 2.610 titik. Di Provinsi Riau sendiri terpantau sebanyak 355 titik panas," kata Elisa JS Kedang.
Pelalawan Menyumbang 216 Titik Panas untuk Riau
Konsentrasi hotspot di Riau terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dengan 216 titik panas. Angka tersebut setara lebih dari separuh total titik panas di provinsi ini dan menjadi kontributor terbesar lonjakan pagi ini.
Selain Pelalawan, sebaran titik panas juga terpantau di Indragiri Hilir dengan 80 titik, Kuantan Singingi 12 titik, dan Kampar 11 titik. Sejumlah daerah lain mencatat angka lebih rendah, seperti Siak 10 titik, Kepulauan Meranti 7 titik, Indragiri Hulu 6 titik, Bengkalis 5 titik, Rokan Hulu 3 titik, Rokan Hilir 3 titik, dan Kota Dumai 2 titik.
Sumatera Selatan Catat 1.311 Hotspot, Tertinggi di Pulau Sumatera
Data BMKG menempatkan Sumatera Selatan di posisi tertinggi dengan 1.311 titik panas. Jumlah itu hampir dua kali lipat gabungan titik panas di provinsi-provinsi lain di bagian selatan Pulau Sumatera.
Provinsi lain yang mencatat angka signifikan adalah Jambi dengan 278 titik, Bangka Belitung 268 titik, dan Lampung 187 titik. Sementara itu, Aceh mencatat 67 titik, Kepulauan Riau 55 titik, Sumatera Utara 45 titik, Sumatera Barat 27 titik, dan Bengkulu 17 titik.
Kondisi Cuaca Kering Berpotensi Memperluas Karhutla
Tingginya jumlah hotspot di sejumlah wilayah menjadi indikator yang perlu diwaspadai karena dapat mengindikasikan potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila didukung kondisi cuaca kering dan minim curah hujan.
BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan pemantauan di daerah yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi agar potensi karhutla dapat dicegah sedini mungkin. Langkah patroli terpadu dan kesiapan sarana pemadam menjadi kunci utama dalam menghadapi masa rawan ini.