Pencarian

PLTP Gunung Ungaran Siap Dibor Sedalam 2.200 Meter, Investasi US$300 Juta dan Target Operasi 2031

Kamis, 27 Agustus 2026 • 03:03:01 WIB
PLTP Gunung Ungaran Siap Dibor Sedalam 2.200 Meter, Investasi US$300 Juta dan Target Operasi 2031
Pengeboran eksplorasi panas bumi di Gunung Ungaran ditargetkan mencapai kedalaman 1.900 hingga 2.200 meter untuk membuktikan potensi uap.

SEMARANG — Pengeboran eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran akan menjadi penentu utama realisasi proyek PLTP yang digadang-gadang menjadi sumber energi baru terbarukan (EBT) andalan Jawa Tengah. Pemerintah provinsi menargetkan pengeboran hingga kedalaman 1.900 hingga 2.200 meter untuk membuktikan potensi uap panas di bawah permukaan gunung.

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas ESDM Jawa Tengah, Dwi Suryono, mengatakan penerbitan Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026 menjadi titik awal rangkaian panjang persiapan proyek. Menurutnya, hasil pengeboran akan menentukan apakah proyek ini layak dilanjutkan ke tahap pembangunan infrastruktur pembangkit.

Mengapa Luas Konsesi 29.800 Hektare Tak Semuanya Dipakai?

Dwi menjelaskan, luasan izin eksplorasi yang mencapai 29.800 hektare bukan berarti seluruh kawasan akan dijadikan tapak pembangunan pembangkit. Area tersebut berfungsi sebagai ruang pencarian titik prospek panas bumi yang paling potensial.

“Luasan izin eksplorasi sebesar 29.800 hektare tidak akan dipakai seluruhnya untuk tapak proyek PLTP. Pemilihan lokasi akan difokuskan pada titik-titik potensial, yang didukung kesiapan infrastruktur,” jelasnya saat konferensi pers di Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026).

Mayoritas wilayah konsesi berada di Kabupaten Semarang, sementara sebagian lainnya masuk kawasan perbatasan pegunungan Kabupaten Kendal. Pemilihan titik akhir pembangunan akan mempertimbangkan akses jalan dan jarak ke jaringan listrik.

Eksplorasi Jadi Pembuktian: Jika Tak Ada Uap, Proyek Bisa Batal

Tahapan eksplorasi merupakan proses pembuktian dari studi pendahuluan yang telah dilakukan. Dwi menegaskan bahwa jika pengeboran tidak menemukan uap air atau panas bumi yang cukup, maka proyek akan dihentikan dan konsesi bisa dialihkan ke lokasi prospek lain.

“Eksplorasi ini adalah bagian dari pembuktian dari studi tidak langsung. Apakah betul di bawah itu ada potensi panas bumi, maka perlu dilakukan pengeboran hingga kedalaman 1.900 sampai 2.200 meter. Jika tidak didapatkan uap air atau panasnya, tentu dicukupkan dan beralih ke lokasi prospek lain,” kata Dwi.

Proses perizinan diproyeksikan berlangsung hingga 2029, dengan kegiatan pengeboran ditargetkan dimulai pada akhir 2028 atau 2029. Jika hasil eksplorasi positif, pembangunan infrastruktur pembangkit akan segera dilanjutkan.

Jadwal COD dan Target Operasional 2031

Dinas ESDM Jateng memastikan proyek ini tidak akan molor dari target yang telah ditetapkan. Seluruh rangkaian persiapan, mulai dari perizinan, eksplorasi, hingga pembangunan, dijadwalkan rampung tepat waktu.

“Di tahun 2031 baru di-launching atau di-COD-kan commercial operation date (beroperasi) itu di tahun 2031,” bebernya.

Teknologi Panas Bumi Terbukti Berkelanjutan, Ini Buktinya

Menanggapi kekhawatiran masyarakat tentang ketahanan operasional dan dampak lingkungan, Dinas ESDM Jateng mencontohkan PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi sejak 1926. Pengalaman tersebut dinilai membuktikan bahwa teknologi panas bumi dapat digunakan dalam jangka panjang apabila dikelola dengan baik.

Keberlanjutan operasional menjadi salah satu aspek yang terus diperhatikan dalam pengembangan proyek PLTP Gunung Ungaran. Dengan kapasitas yang diproyeksikan mencapai 55 MW, proyek ini diharapkan menjadi tulang punggung transisi energi nonfosil di Jawa Tengah sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Sumber: indoraya.news

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks