LIPUTANHARIAN.CO.ID — Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 18.080 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026), melemah 34 poin atau 0,18% dibanding posisi sepekan sebelumnya di Rp 18.046. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak mentah hingga US$ 100 per barel akibat konflik di Timur Tengah. Posisi rupiah yang makin rentan membuat pelaku pasar menanti arah kebijakan bank sentral.
Sepanjang periode 19-23 Oktober 2026, pergerakan rupiah terhadap dolar AS berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pada pembukaan Senin (19/10/2026), rupiah dibuka melemah 4 poin (0,02%) ke Rp 18.031 dan ditutup di Rp 18.046 atau turun 19 poin (0,11%).
Selasa (20/10/2026) sempat memberi jeda. Rupiah dibuka menguat tipis 2 poin ke Rp 18.044, lalu ditutup menguat 54 poin (0,30%) ke Rp 17.992 per dolar AS. Namun penguatan itu tidak bertahan lama.
Rabu (21/10/2026), rupiah dibuka menguat 1 poin ke Rp 17.991, tetapi berbalik jeblok dan ditutup melemah 30 poin (0,17%) di Rp 18.022. Pelemahan berlanjut Kamis (22/10/2026): dibuka turun 12 poin ke Rp 18.034 dan ditutup melemah 38 poin (0,21%) ke Rp 18.060.
Pada Jumat (23/10/2026), rupiah dibuka melemah 11 poin (0,06%) ke Rp 18.071 dan berakhir di Rp 18.080, turun 20 poin (0,11%) dari penutupan hari sebelumnya.
Harga Minyak US$ 100 Jadi Pemicu Utama
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai posisi rupiah makin rentan seiring meningkatnya kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi imbas konflik di Timur Tengah. Dari sisi internal, tekanan datang dari kenaikan harga minyak hingga level US$ 100 per barel.
"Untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun kembali melemah di rentang Rp 18.080 - Rp 18.130 per dolar AS," ungkap Ibrahim, dikutip Minggu (25/10/2026).
Untuk sepekan ke depan, Ibrahim memproyeksi kurs rupiah bergerak di rentang Rp 17.900 - Rp 18.250 per dolar AS.
Rentang Rp 17.900-Rp 18.250 Jadi Acuan Sepekan
Proyeksi tersebut memberi gambaran bahwa volatilitas rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Rentang bawah Rp 17.900 hanya mungkin tersentuh bila ada sentimen positif besar, sementara batas atas Rp 18.250 mencerminkan risiko pelemahan lanjutan bila harga minyak terus naik.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas, rentang tersebut layak dijadikan acuan perencanaan lindung nilai. Sementara bagi investor asing, level rupiah saat ini menjadi pertimbangan tambahan dalam menghitung imbal hasil riil aset Indonesia.
Tekanan Eksternal Masih Dominan
Konflik di Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang paling menentukan arah rupiah pekan lalu. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi mendorong harga minyak bertahan di level tinggi, yang pada gilirannya membebani neraca perdagangan dan menekan mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
Selama tekanan eksternal belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Pasar akan mencermati respons otoritas moneter serta perkembangan harga energi global pada pekan berikutnya.