LIPUTANHARIAN.CO.ID — Rupiah berpotensi kembali melemah di pasar spot pada perdagangan hari ini, Jumat (2/10/2026), setelah ditutup melemah 0,45% ke Rp17.950/US$ pada perdagangan sebelumnya. Tekanan eksternal dari harga minyak mentah Brent yang kembali naik ke US$102,6 per barel dan penguatan indeks dolar AS ke level 102 menjadi beban utama mata uang Garuda. Bank Indonesia dilaporkan kian intensif melakukan intervensi untuk menahan volatilitas rupiah.
Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah hari ini bergerak di rentang Rp17.974-Rp17.986/US$, mengindikasikan level Rp18.000/US$ semakin dekat untuk kembali diuji.
Dari sisi eksternal, tekanan datang dari harga minyak mentah Brent yang kembali naik ke US$102,6 per barel, setelah sebelumnya melemah 0,22%. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) juga terkerek ke level 102 dengan kenaikan 0,64% kemarin.
Yield US Treasury masih bertahan di 5,2%, walaupun turun 3,5 basis poin (bps) setelah sebelumnya berada di 5,3% — level tertinggi sejak 2003.
Mata Uang Asia Tertekan, Won Korea Melemah Paling Tajam
Pagi ini, sebagian besar mata uang kawasan berada dalam posisi tertekan. Won Korea Selatan melemah paling tajam 0,33%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong.
Pelemahan serentak mata uang Asia ini mencerminkan tekanan global yang belum reda, terutama dari penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
Intervensi BI Jadi Penahan Utama Volatilitas Rupiah
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) kian intensif melakukan intervensi untuk menahan volatilitas mata uang Garuda. Langkah ini menjadi penopang utama agar rupiah tidak bergerak terlalu liar di pasar spot.
Pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin menunjukkan level Rp18.000/US$ semakin dekat untuk kembali diuji. Rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp17.950/US$, usai rilisnya data inflasi yang meninggi.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Hari Ini
Bagi pelaku pasar, kombinasi kenaikan harga minyak, penguatan indeks dolar, dan yield US Treasury yang masih di atas 5% menjadi trio faktor yang membebani aset emerging market, termasuk rupiah dan obligasi Indonesia.
Pergerakan rupiah hari ini akan sangat bergantung pada seberapa agresif BI melakukan intervensi di pasar spot dan NDF, serta apakah ada sentimen baru dari data ekonomi AS yang dirilis nanti malam.