LIPUTANHARIAN.CO.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada rentang 6.000–6.215 sepanjang periode 12–16 Oktober 2026, dengan peluang rebound menuju area 6.227–6.231 jika momentum teknikal bertahan. Proyeksi itu muncul setelah IHSG menguat 0,94 persen secara mingguan ke 6.093,76, meski investor asing masih mencatatkan jual bersih sekitar Rp 2,44 triliun. Pasar akan menguji apakah level psikologis 6.000 mampu dipertahankan di tengah tekanan eksternal.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menyebut arah indeks pekan ini sangat bergantung pada kemampuan IHSG mempertahankan momentum teknikalnya. Level 5.973 menjadi garis pertahanan kunci yang menentukan kelanjutan tren.
"Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai," kata Brigita dalam risetnya, Senin (12/10/2026).
Untuk pergerakan jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di posisi 6.018. Penembusan resistance 6.215 berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297.
Rebound Ditopang Volume, Tren Menengah Belum Terkonfirmasi
Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), IHSG ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 dan bertahan di atas garis MA3. Indeks juga mampu menjaga posisi di atas level psikologis 6.000 sepanjang sesi.
Dalam skala mingguan, indeks menguat 0,94 persen atau 56,87 poin dari posisi 6.036,89 pekan sebelumnya, bergerak pada rentang 5.995–6.216. Kapitalisasi pasar BEI naik 0,69 persen menjadi Rp 10.701 triliun dari Rp 10.627 triliun.
Indikator momentum memperlihatkan histogram negatif MACD yang terus menyempit, menandakan tekanan jual mulai mereda. Meski begitu, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan, dan pemulihan tren jangka menengah belum terkonfirmasi karena indeks belum menembus MA20.
GOTO dan BBCA Jadi Sasaran Jual, ULTJ Paling Diburu Asing
Di tengah penguatan indeks, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih sekitar Rp 2,44 triliun sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026. Tiga saham menjadi sasaran pelepasan terbesar:
- GOTO: jual bersih Rp 663,2 miliar
- BBCA: jual bersih Rp 293,5 miliar
- BMRI: jual bersih Rp 235,6 miliar
Sementara saham yang paling banyak dibeli asing meliputi ULTJ senilai Rp 111,5 miliar, MEDC Rp 48,5 miliar, dan EMAS Rp 42,1 miliar.
Dari sisi likuiditas, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar saham dan frekuensi transaksi melemah 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali. Sebaliknya, rata-rata nilai transaksi harian melesat 28,52 persen menjadi Rp 16,23 triliun.
Tekanan Global dan Defisit Transaksi Berjalan Jadi Perhatian
Brigita menilai pergerakan pasar global sepanjang pekan lalu diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik. Yield US Treasury 10Y bertahan di level tinggi meski terkoreksi usai lelang obligasi AS mendapat respons permintaan kuat.
"Sentimen membaik pada Jumat (9/10/2026) ketika Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq naik 0,64 persen, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi," ujar Brigita.
Di pasar komoditas, harga minyak WTI ditutup di level USD 91,66 per barel pada Jumat (9/10/2026) setelah bergerak volatil akibat risiko geopolitik di Selat Hormuz, isu militer AS-Iran, dan ancaman Badai Isaias di Teluk Meksiko. Emas menguat 1,47 persen ke USD 4.193,9 per troy ounce, sedangkan batu bara Newcastle terkoreksi ke USD 148,85 per ton setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 23 bulan.
Dari dalam negeri, proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi 1,5 persen PDB pada 2026 akibat impor energi masih menjadi perhatian. Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 tetap optimistis di level 118,1, meski Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melandai ke 107,5.
"Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung," ungkap Brigita.
Cadangan Devisa dan Komitmen Danantara Jadi Penopang
Stabilitas domestik masih didukung cadangan devisa sebesar USD 146,3 miliar, status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market oleh FTSE Russell, defisit APBN 1,24 persen PDB dengan keseimbangan primer surplus, serta komitmen efisiensi belanja pemerintah.
Komitmen Danantara untuk menambah investasi hingga USD 1 miliar sampai akhir 2026 juga berpotensi memberikan sokongan bagi permintaan saham domestik. Bagi investor, rentang 6.000–6.215 menjadi acuan utama pekan ini, dengan 5.973 sebagai level yang wajib dipantau untuk mengukur risiko koreksi lanjutan.