Pencarian

Dampak Banjir Bhotekoshi, Okupansi Hotel Nepal Anjlok di Bawah 5 Persen

Selasa, 15 September 2026 • 10:42:31 WIB
Dampak Banjir Bhotekoshi, Okupansi Hotel Nepal Anjlok di Bawah 5 Persen
Tingkat hunian hotel di Sauraha, Chitwan, turun di bawah 5 persen pasca-banjir Bhotekoshi.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Ironi pariwisata Nepal saat ini bukan terletak pada kerusakan infrastruktur di lokasi tujuan, melainkan pada persepsi global yang terbentuk pasca-bencana. Meskipun banjir bandang di Sungai Bhotekoshi tidak menghancurkan fasilitas wisata di Chitwan atau Lumbini, efek dominonya sangat masif. Wisatawan mancanegara maupun domestik memilih membatalkan rencana perjalanan mereka.

Krisis Okupansi di Sauraha dan Chitwan

Sauraha, gerbang utama menuju Taman Nasional Chitwan, biasanya menjadi titik kumpul ribuan pelancong. Kawasan ini memiliki 125 hotel dengan total kapasitas menampung 8.000 tamu harian. Namun, realitas di lapangan saat ini menunjukkan pemandangan yang kontras.

Suman Ghimire, mantan Ketua Asosiasi Hotel Regional Sauraha, mengungkapkan bahwa hampir tidak ada wisatawan yang tersisa. "Saat ini hampir tidak ada wisatawan. Tingkat hunian hotel berada di bawah 5 persen," ujar Ghimire. Lodge miliknya, Jungle Safari Lodge, yang memiliki 34 kamar, kini sebagian besar kosong setelah jalan raya Krishnabhir terputus oleh banjir.

Dampak serupa dirasakan Royal Tulip Chitwan Hotel. Rameshwar Sah, ketua pengelola akomodasi tersebut, menyatakan tingkat pembatalan pemesanan mencapai 80 persen. Ia menekankan bahwa sektor pariwisata terpukul bukan karena bencana fisik di lokasi, melainkan oleh rumor dan laporan menyesatkan yang menyebar melalui imbauan perjalanan internasional.

Pokhara Terjepit Masalah Transportasi

Di Pokhara, distrik Kaski, situasi juga tak kalah genting. Hari Bhujel, Ketua Dewan Pariwisata setempat, mencatat sekitar 30 persen pemesanan hotel dibatalkan. Musim kunjungan asing yang baru dimulai justru terhambat oleh kombinasi faktor alam dan operasional.

Penutupan Jalan Raya Prithvi di Krishnabhir menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, kenaikan harga tiket pesawat dan keterbatasan frekuensi penerbangan antara Kathmandu-Pokhara memperparah aksesibilitas. Penerapan tarif dalam mata uang dolar bagi wisatawan asing turut menambah beban biaya bagi calon pengunjung.

Terminal bus wisata di Mustang Chowk, yang biasanya sibuk sejak pagi hingga malam dengan 24 bus menuju Kathmandu, kini tampak sepi. Hanya segelintir bus wisata dengan tujuan Chitwan dan Lumbini yang masih beroperasi, meninggalkan banyak kursi kosong tanpa penumpang.

Lumbini dan Upaya Pemulihan Citra

Lumbini, situs kelahiran Buddha, juga mengalami penurunan signifikan. Lilamani Sharma, Ketua Asosiasi Hotel Lumbini, melaporkan pembatalan pesanan untuk periode Oktober-November, yang merupakan musim puncak kunjungan religius. Wisatawan yang transit melalui Kathmandu menjadi kelompok pertama yang menarik diri.

Pemerintah setempat menyadari urgensi perbaikan narasi. Himal Upreti, Penjabat Sekretaris Lumbini Development Trust (LDT), menegaskan perlunya meyakinkan komunitas internasional mengenai keamanan destinasi. "Banjir Bhotekoshi telah menimbulkan kesan negatif bahwa seluruh negeri sedang diliputi ketakutan dan kesulitan. Oleh karena itu, kita harus meyakinkan masyarakat internasional bahwa Lumbini aman dan dapat diakses," kata Upreti.

Implikasi bagi Traveler Indonesia

Bagi traveler asal Indonesia yang berencana mengunjungi Nepal dalam waktu dekat, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra terhadap logistik. Akses darat antar-kota wisata mungkin mengalami gangguan akibat perbaikan jalan pasca-banjir. Disarankan untuk memantau status pembukaan Jalan Raya Prithvi dan ketersediaan slot penerbangan internal sebelum memesan paket tur.

Informasi terkini mengenai kondisi keselamatan dan aksesibilitas destinasi dapat dikonfirmasi melalui kedutaan atau dinas pariwisata Nepal secara resmi. Persepsi risiko yang tinggi saat ini membuat negosiasi harga penginapan mungkin lebih menguntungkan bagi wisatawan, namun ketidakpastian transportasi tetap menjadi variabel utama yang perlu diperhitungkan.

Sumber: travel.detik.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks