LIPUTANHARIAN.CO.ID — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) resmi mengganti lima dari dua belas posisi direksinya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di kantor pusat BTN, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026. Perombakan ini disepakati pemegang saham sebagai bagian dari regenerasi kepemimpinan, dan terjadi justru saat kinerja keuangan perseroan sedang tumbuh solid.
Direktur Utama Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan langsung alasan di balik keputusan ini kepada awak media usai RUPSLB. "Terdapat perubahan beberapa direksi di BTN, ada lima dari dua belas yang berubah. Ini merupakan bagian dari regenerasi, peremajaan pengelolaan perbankan yang berfokus pada sektor perumahan," kata Nixon.
Kinerja yang Justru Sedang Kuat
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, aset BTN tercatat Rp545,16 triliun atau tumbuh 12,41 persen secara tahunan. Laba bersih melonjak lebih tajam lagi, naik 40,78 persen menjadi Rp2,41 triliun, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp418,11 triliun, tumbuh 11,17 persen.
Bukan Soal Kinerja Buruk
Kelima direktur yang lengser — Nofry Rony Poetra (Finance & Strategy), Eko Waluyo (Human Capital & Compliance), Hirwandi Gafar (Consumer Banking), Setiyo Wibowo (Risk Management), dan Tan Jacky Chen (Information Technology) — diberhentikan "dengan hormat", istilah yang lazim dipakai untuk transisi terencana, bukan sanksi kinerja.
Nixon menambahkan bahwa kelima direktur baru dipilih karena rekam jejaknya yang luas. "CV-nya tadi pengalamannya juga cukup lebar dan luas," ujarnya, seraya berharap susunan baru ini bisa "mempercepat transformasi BTN jilid dua".
Kesimpulan
Kombinasi kinerja yang sedang bagus dengan keputusan merombak direksi menunjukkan BTN memilih momentum yang justru sedang di atas untuk melakukan penyegaran manajemen, bukan menunggu kinerja memburuk lebih dulu.