PATI — Ratusan pasang mata tertuju ke panggung GOR Pesantenan Pati saat para pelajar SMP Kanisius Pati membawakan lakon Bharatayudha Nusantara, Kamis (28/8) malam. Bukan sekadar drama biasa, pementasan ini menjadi puncak dari proses latihan intensif selama dua bulan yang melibatkan 50 siswa dari berbagai tingkatan kelas.
Yang menarik, dialog dalam pementasan ini tidak menggunakan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Jawa krama. Keputusan itu diambil untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di kalangan pelajar yang kian tergerus zaman.
Bukan Sekadar Main Peran, Siswa Belajar Sejarah dan Bahasa Jawa
Di bawah arahan Nirwan Basuki, seniman teater dan ketoprak asal Wedarijaksa, para siswa tidak hanya berlatih akting. Mereka juga mendalami sejarah Kerajaan Gelang-Gelang dan Singosari yang menjadi latar cerita, sekaligus mempelajari tata bahasa Jawa yang benar.
Nirwan sengaja mengkolaborasikan musik karawitan dengan sentuhan musik modern sebagai pengiring. Perpaduan ini membuat pementasan terasa lebih dinamis tanpa meninggalkan akar budaya tradisionalnya.
Pengalaman Berharga di Mata Para Pemeran
Keanu Marcelo Budiarto Tjipto, siswa kelas 9 yang memerankan tokoh Jayakatwang, mengaku keterlibatannya dalam pementasan ini membuka wawasannya tentang sejarah dan budaya Jawa. Ia berharap bisa kembali mendapat kesempatan serupa di masa mendatang.
Senada dengan itu, Anastasia Tabitha Glory yang berperan sebagai Tri Dewari mengaku terkesan dengan kesungguhan teman-temannya selama proses latihan hingga pementasan. Pengalaman ini membuatnya tertarik untuk mendalami seni peran, khususnya ketoprak.
GSMS: Wadah Pelestarian Budaya dari Kementerian Kebudayaan
Program GSMS merupakan inisiatif strategis Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang menghadirkan seniman profesional untuk mengajar langsung di satuan pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Melalui program ini, para pelajar tidak hanya mendapatkan keterampilan bermain peran, tetapi juga dilatih membangun kepercayaan diri dan kemampuan bekerja sama dalam tim. Kegiatan semacam ini menjadi salah satu upaya konkret memperkenalkan seni, budaya, dan bahasa Jawa kepada generasi muda di tengah arus globalisasi.