Pencarian

Cireng Asik dan Gelang Temali Dinda Buktikan Marketplace Jadi Ladang Cuan UMKM

Minggu, 30 Agustus 2026 • 18:01:01 WIB
Cireng Asik dan Gelang Temali Dinda Buktikan Marketplace Jadi Ladang Cuan UMKM
Ika, pemilik Cireng Asik, menunjukkan produk cireng isi yang dikemas vakum untuk pengiriman daring di Depok, Jawa Barat.

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kisah Ika dan Harun menjadi potret bagaimana pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan ekosistem digital untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi. Pasangan suami istri asal Depok, Jawa Barat, ini memulai usaha cireng isi pada 2024 dengan berjualan mangkal di depan sekolah di Jalan Merdeka. Target pasar mereka jelas: anak sekolah dengan kantong terbatas.

"Karena target kita kan jajanan, jadi ya anak-anak sekolah gitu," ujar Ika kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/8).

Dari Gerobak ke Etalase Digital

Keputusan untuk berekspansi ke marketplace muncul setelah penjualan di lokasi fisik mulai stabil. Ika mengaku awalnya ragu karena tahu banyak kompetitor serupa di platform tersebut. Namun, ia memilih Shopee karena basis penggunanya paling besar di Indonesia. Nama "Cireng Asik" pun dijadikan jenama untuk toko daringnya.

Perjalanan di dunia digital tidak mulus. Ika mengaku sempat gagal mengemas produk hingga cireng yang dikirim tiba dalam kondisi basi. Berbagai percobaan dilakukan hingga akhirnya menemukan metode menggoreng setengah matang lalu mengemasnya dengan vakum.

"Setelah nemuin metode kayak setengah digoreng, divakum gitu kan, baru ternyata aman. Bahkan sempat beberapa kali kirim ke luar Pulau Jawa itu aman," kata Ika.

Omzet Harian Tembus Rp800 Ribu

Metode pengemasan yang tepat membuka keran permintaan dari luar kota. Ika kini berani melayani pengiriman hingga Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, dan Bali. Di luar wilayah itu, ia mengaku masih was-was soal ketahanan produk.

Hasilnya, omzet harian Cireng Asik kini mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Kontribusi penjualan daring disebutnya sudah mengalahkan penjualan langsung di kantin sekolah.

"Kalau sekarang, udah banyakan online sih. Kayak, mungkin online 60 persen, sekolah 40 persen lah," ujarnya.

Keuntungan dari usaha ini tak hanya menghidupi keluarga kecilnya, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi saudara yang dilibatkan dalam produksi. Ika bersyukur bisa menyisihkan rezeki untuk orang tua.

Hobi yang Menjadi Sumber Penghasilan

Jalur serupa ditempuh Dinda, perajin gelang handmade yang memulai usahanya dari hobi. Ia memanfaatkan marketplace untuk menjangkau pembeli di luar lingkaran pertemanannya. Keduanya menunjukkan bahwa platform digital bukan sekadar etalase, melainkan mesin pertumbuhan bagi usaha kecil yang sebelumnya hanya mengandalkan pelanggan di sekitar rumah.

Fenomena ini sejalan dengan tren belanja daring nasional yang terus meningkat. Bagi pelaku usaha seperti Ika dan Dinda, adaptasi terhadap teknologi menjadi kunci agar usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah persaingan yang ketat.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow liputanharian.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks