LIPUTANHARIAN.CO.ID — Kepolisian Dubai membangun imej paling ikonik di dunia sejak 2013, saat Lamborghini Aventador pertama kali masuk armada mereka. Daftarnya terus bertambah: Bugatti Veyron (2015), Aston Martin One-77, McLaren MP4-12C, Ferrari FF, Bentley Continental GT V8, sampai Rolls-Royce Cullinan Mansory.
Yang perlu diluruskan: mobil-mobil ini tidak pernah terlibat dalam satu pun pengejaran kecepatan tinggi ala film Fast & Furious. Tingkat kejahatan di Dubai sangat rendah karena sistem hukum Uni Emirat Arab yang tegas, jadi fungsi patroli dengan hypercar jelas bukan prioritas.
Akar Masalahnya Bukan Kecepatan, Tapi Citra Kota
Keputusan ini dimulai April 2013, ketika otoritas UEA menilai petugas kepolisian harus mencerminkan identitas Dubai sebagai kota global yang inovatif dan sejahtera. Jalanan Dubai dipenuhi kendaraan super mahal milik warga lokal dan ekspatriat; polisi yang berpatroli dengan sedan biasa akan terlihat "tenggelam" di lingkungan tersebut.
Penggunaan mobil super dianggap cara paling efektif menjaga wibawa aparat di hadapan warga super kaya. Secara visual, armada ini membuat polisi "matching" dengan kepribadian kota—sebuah pernyataan bahwa keamanan di Dubai dikelola dengan standar kelas satu.
Di Mana Mobil Super Itu Sebenarnya Bertugas?
Mobil-mobil tersebut tidak dipakai untuk patroli harian. Berdasarkan laporan Jalopnik dan Times of India, armada ini hanya diturunkan di kawasan elit tertentu: pusat kota, Jumeirah Beach Residence, Dubai Mall, Palm Jumeirah, dan acara ekspo internasional.
Kehadirannya lebih berfungsi sebagai penghubung simbolis antara warga kaya dan institusi penjaga keamanan publik. Mobil-mobil ini hadir untuk dilihat, bukan untuk dikejar-kejar—sebuah taktik soft power yang membuat Dubai semakin melekat sebagai kota masa depan.
Yang Perlu Diperhatikan dari Strategi Ini
Strategi ini hanya relevan untuk kota dengan demografi ekonomi ekstrem seperti Dubai. Untuk kepolisian di kota lain, membeli Bugatti Veyron untuk "pamer" jelas pemborosan anggaran yang tidak bisa dibenarkan secara rasional.
Namun, hasilnya efektif untuk tujuan branding: Kepolisian Dubai kini menjadi institusi penegak hukum paling dikenal di media sosial, dan setiap kali mobil baru bergabung, pemberitaan gratis mengalir deras ke seluruh dunia.
Kesimpulannya, mobil super ini adalah investasi citra, bukan alat operasional. Jika Anda berharap melihat Aventador mengejar penjahat, Anda akan kecewa—mereka lebih sering berfoto dengan turis di depan Burj Khalifa.