LIPUTANHARIAN.CO.ID — Mendaki Gunung Fuji bukan sekadar uji fisik, melainkan juga pertaruhan keselamatan. Seorang pendaki asal Jerman baru saja merasakan konsekuensi pahit dari memaksakan diri. Perempuan berusia 33 tahun itu dievakuasi menggunakan buldoser setelah kondisinya memburuk dua kali dalam satu kali pendakian.
Kronologi Evakuasi di Jalur Fujinomiya
Pendaki tersebut memulai perjalanannya dari pos kelima jalur Fujinomiya pada Rabu (19/8/2026). Titik ini berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ia ditemani seorang rekannya dan menargetkan puncak setinggi 3.776 meter.
Sore harinya, keduanya tiba di pos delapan yang berada di ketinggian sekitar 3.250 mdpl. Di sinilah masalah dimulai. Sang pendaki mengeluhkan pusing, kelelahan, dan mual—tanda klasik acute mountain sickness (AMS).
Petugas pusat medis di pos delapan sempat memeriksanya. Setelah evaluasi, ia memutuskan untuk bermalam di pondok gunung agar tubuhnya beristirahat.
Keputusan Berisiko Melanjutkan ke Puncak
Keputusan untuk melanjutkan pendakian diambil pada Kamis dini hari. Dari pos delapan, ia masih harus menempuh sekitar 526 meter untuk mencapai puncak. Dalam kondisi normal, perjalanan ini biasanya memakan waktu sekitar dua jam.
Ia berhasil mencapai puncak. Namun, saat turun, gejala mabuk ketinggian kembali menyerang. Ia tetap berusaha bertahan hingga kembali ke pos delapan, tetapi kondisinya semakin memburuk. Dokter di pos medis menilai perjalanan turun seorang diri terlalu berisiko baginya.
Evakuasi dengan Buldoser dan Imbauan Kepolisian
Tim penyelamat gunung dari Kepolisian Prefektur Shizuoka yang berada di dekat pos kesembilan dikerahkan. Pendaki tersebut dievakuasi menggunakan buldoser hingga pos kelima, titik yang terhubung dengan jaringan jalan. Dari sana, paramedis membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan perawatan lanjutan.
Kepolisian Prefektur Shizuoka kembali mengingatkan para pendaki agar tidak memaksakan diri. Pendaki yang merasa tidak sehat di jalur Gunung Fuji diminta segera menghentikan perjalanan dan mencari bantuan. Hasil pemeriksaan awal perempuan tersebut belum dipublikasikan, sehingga belum diketahui apakah keputusannya melanjutkan pendakian sudah sesuai anjuran tenaga medis.
Pelajaran untuk Pendaki Indonesia
Insiden ini relevan bagi pendaki Indonesia yang kerap meremehkan risiko altitude sickness. Gunung Fuji memang populer, tetapi tetap memiliki tantangan serius di ketinggian di atas 3.000 mdpl. Gejala seperti sakit kepala, mual, dan kelelahan ekstrem bukan hal yang bisa diabaikan.
Jika Anda berencana mendaki Gunung Fuji, pastikan untuk mengenali batas tubuh dan memahami protokol evakuasi di setiap pos. Informasi terkini mengenai kondisi jalur dan pusat medis dapat dikonfirmasi melalui situs resmi pendakian Gunung Fuji sebelum berangkat.