LIPUTANHARIAN.CO.ID — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat distribusi mobil hybrid sepanjang Januari–September 2026 mencapai 65.968 unit, setara 9,72% dari total pasar nasional 679.020 unit. Angka itu masih di bawah mobil listrik yang menembus 117.218 unit, meski Kementerian Perindustrian kini mengusulkan insentif non-fiskal agar hybrid bisa bebas ganjil genap.
Data wholesales Gaikindo memperlihatkan pasar mobil hybrid terus naik dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 distribusinya baru 2.472 unit, lalu melonjak ke 10.344 unit pada 2022 dan 54.179 unit pada 2023.
Tren naik berlanjut ke 59.903 unit pada 2024 dan 65.943 unit sepanjang 2025. Hingga September 2026, hybrid sudah terdistribusi 65.968 unit — lebih tinggi dari total setahun penuh sebelumnya.
Mobil Listrik Tetap Menyalip Hybrid
Dominasi hybrid belum menandingi kendaraan listrik murni. Sepanjang Januari–September 2026, mobil listrik terdistribusi 117.218 unit atau 17,26% dari pangsa pasar nasional.
Lompatan mobil listrik terjadi pada 2025 dengan 103.931 unit, setelah 2024 tercatat 43.188 unit. Pada 2021, kendaraan listrik hanya terdistribusi 687 unit.
Meski begitu, hybrid punya keunggulan tersendiri karena masih memakai mesin pembakaran internal. Industri komponen nasional dinilai lebih mudah beradaptasi dibandingkan transisi penuh ke kendaraan listrik.
Usulan Insentif Non-Fiskal dari Kemenperin
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengusulkan insentif non-fiskal bagi mobil hybrid, plug-in hybrid, dan range extended electric vehicles (REEV). Usulan itu disampaikan usai pertemuan dengan pengurus Gaikindo di Jakarta, Rabu (21/10).
"Nonfiskal itu misalkan administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya," ujar Sarmuji dalam keterangan resminya.
Menurut Sarmuji, kendaraan hybrid, plug-in hybrid, dan REEV tetap memakai baterai sekaligus mesin ICE. Komponen yang sudah diproduksi industri dalam negeri tidak perlu berubah total.
"Kalau yang plug-in maupun hybrid biasa maupun REEV itu masih memakai baterai, tetapi juga masih memakai mesin ICE. Jadi, komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah," kata Sarmuji.
Peluang Industri Komponen Bertahan
Pemanfaatan mesin ICE pada kendaraan elektrifikasi memberi ruang bagi pemasok komponen otomotif nasional untuk beradaptasi bertahap. Alih-alih beralih total, pabrikan bisa menyesuaikan lini produksi mengikuti kebutuhan kendaraan hybrid.
Bagi konsumen, insentif non-fiskal berupa akses ganjil genap dan parkir khusus berpotensi menambah daya tarik hybrid. Namun usulan Kemenperin itu belum masuk tahap keputusan resmi, sehingga skema pastinya masih menunggu pembahasan lanjutan.