Bos IMF Peringatkan Risiko AI Tanpa Regulasi Keselamatan

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan perkembangan AI yang cepat tanpa regulasi keselamatan dalam diskusi di pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia.
Penulis: Mahsyar Hamdani
Senin, 19 Oktober 2026 | 11:01:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan perkembangan kecerdasan buatan yang melaju cepat tanpa pagar pengaman regulasi. Dalam diskusi di pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, ia mengibaratkan AI seperti mobil Formula 1 yang berisiko menabrak orang di sekitarnya. IMF memperkirakan hampir 40% pekerjaan global berpotensi terdampak teknologi ini.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang tidak diimbangi aturan keselamatan. Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi bertajuk AI and the Global Economy: From Risk to Opportunity pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, Jumat (16/10/2026).

Georgieva mengibaratkan AI sebagai mobil Formula 1 yang melaju kencang tanpa pagar pengaman. Menurutnya, kecepatan inovasi perlu disertai perlindungan agar tidak membahayakan masyarakat luas.

Analogi Mobil F1 dan Risiko yang Mengintai

"Kita sedang berpacu. Pertanyaannya, bagaimana memasang pagar pengaman agar ketika mobil keluar lintasan, tidak sampai membunuh orang," ujar Georgieva, dikutip dari Associated Press, Senin (19/10/2026).

Ia menegaskan memiliki rasa hormat besar terhadap industri AI. Teknologi ini dinilai bisa memberi manfaat besar bagi perekonomian dan kehidupan manusia. Namun perkembangan yang terlalu cepat tanpa aturan keselamatan berpotensi memunculkan risiko serius.

"Saya sangat menghormati industri ini. Saya pikir apa yang kalian lakukan sangat penting bagi umat manusia. Kalian mungkin memberikan hadiah terbesar bagi kita, tetapi jika mobil itu menabrak orang, hadiah tersebut mungkin tidak lagi sepadan," katanya.

Anthropic: Situasinya Lebih Buruk dari Itu

Peringatan Georgieva ditanggapi Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude. Clark menilai situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan dibandingkan analogi yang dipaparkan bos IMF.

"Menurut saya, situasinya lebih buruk dari yang Anda gambarkan. Ini seperti Formula 1 pada malam hari, mungkin tanpa rem pada mobilnya," kata Clark.

Ia menyoroti minimnya regulasi keselamatan AI dibandingkan produk sehari-hari. Mainan anak-anak, menurut Clark, memiliki aturan lebih ketat ketimbang teknologi superintelligence yang ia kembangkan setiap hari.

"Mainan yang saya beli untuk anak-anak saya memiliki regulasi lebih ketat dibandingkan superintelligence yang saya kerjakan setiap hari," ujarnya.

Clark menegaskan perusahaan teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya pihak yang menentukan batas keamanan AI. Pemerintah perlu terlibat dalam menetapkan standar keselamatan.

Dampak AI ke Lapangan Kerja Global

Georgieva memperingatkan risiko AI dapat melampaui manfaatnya apabila tidak disertai perlindungan memadai. "Jika tidak ada pengaman, risikonya bisa melampaui peluangnya. Dan yang terpenting, kita membutuhkan landasan etika. Saya tidak yakin masyarakat sudah memilikinya," katanya, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Salah satu kekhawatiran utama IMF adalah dampak AI terhadap lapangan kerja. Teknologi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga dapat menggantikan tugas manusia lewat otomatisasi.

IMF sebelumnya memperkirakan hampir 40% pekerjaan di dunia berpotensi terdampak AI. Di negara maju, angkanya bahkan mencapai sekitar 60%. Pekerjaan yang terdampak tidak selalu berarti hilang, sebagian justru bisa lebih produktif berkat bantuan AI.

Pendidikan Ulang dan Kolaborasi Pemerintah-Industri

Georgieva menekankan pentingnya pendidikan, pelatihan ulang pekerja, serta perlindungan sosial untuk menghadapi perubahan tersebut. Ia juga mendorong pemerintah dan industri teknologi bekerja sama membangun aturan keselamatan AI.

Bagi Georgieva, tantangannya bukan menghentikan perkembangan AI. Yang perlu dipastikan adalah teknologi yang melaju sangat cepat itu tidak membahayakan masyarakat.

Reporter: Mahsyar Hamdani