Saham GOTO Diperdagangkan Rp 1 Mulai 28 September, Investor IPO Tertekan

Layar memperlihatkan pergerakan saham GOTO di Bursa Efek Indonesia.
Penulis: Ridwan Azhari
Kamis, 24 September 2026 | 08:01:32 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Bursa Efek Indonesia menetapkan harga minimum saham Rp 1 per lembar mulai 28 September 2026, mengubah batas bawah perdagangan dari sebelumnya Rp 50. Aturan ini menempatkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dalam posisi rentan karena sahamnya telah bertahan di level Rp 50 sejak Mei 2026. Investor yang membeli saat IPO di harga Rp 338 kini menghadapi posisi berat dengan penurunan sekitar 85%.

Kebijakan baru BEI tersebut menghapus level gocap yang selama ini menjadi batas bawah perdagangan saham di pasar modal Indonesia. Bagi GOTO, perubahan ini membuka ruang penurunan harga lebih dalam setelah saham emiten transportasi dan keuangan digital itu tersangkut di Rp 50 selama hampir lima bulan.

Pada perdagangan Rabu (23/9), antrean jual saham GOTO mencapai 392,50 juta lot. Tekanan jual yang menumpuk menunjukkan pasar masih mencari level keseimbangan baru menjelang implementasi aturan harga minimum Rp 1.

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham di Harga Rp 27

Di tengah derasnya antrean jual, Morgan Stanley & Co International PLC justru memborong 400 juta saham GOTO melalui pasar negosiasi pada 18 September 2026. Aksi korporasi tersebut dilakukan di harga Rp 27 per saham, jauh di bawah level Rp 50 yang berlaku saat itu.

Pembelian tersebut meningkatkan kepemilikan Morgan Stanley di GOTO menjadi 80,93 miliar saham atau setara 7,02%. Langkah investor asing ini menunjukkan pandangan berbeda terhadap prospek emiten yang dikenal lewat layanan Gojek tersebut.

Risiko Volatilitas dan Tekanan Jangka Pendek

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, memproyeksikan saham GOTO masih berisiko tertekan dengan volatilitas tinggi dalam jangka pendek setelah batas bawah Rp 50 dibuka. Menurutnya, antrean jual dalam jumlah besar yang terbentuk sebelumnya memperkuat tekanan tersebut.

"Namun, perubahan aturan menjadi Rp 1 tidak otomatis membuat GOTO menjadi saham gorengan," kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Rabu (23/9).

Thoriq menilai GOTO masih memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan basis investor institusi. Dari sisi fundamental, pendapatan bersih perseroan pada semester I 2026 tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp 10,99 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan melonjak 134% menjadi Rp 1,92 triliun.

Tekanan Regulasi Komisi GoRide Pangkas Target EBITDA

GOTO masih menanggung sentimen negatif dari kebijakan pemerintah yang membatasi komisi GoRide menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20% sejak 1 Juli 2026. Kondisi tersebut memaksa perseroan memangkas target EBITDA bisnis On-Demand Services 2026 menjadi Rp 1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp 1,7–1,8 triliun.

"Jadi, dalam jangka pendek pasar masih mencari keseimbangan harga baru, sementara investor jangka menengah perlu melihat apakah pertumbuhan fintech mampu mengimbangi tekanan margin dari bisnis transportasi," ungkap Thoriq.

Posisi Telkomsel dan Investor yang Terjebak di Harga IPO

Penurunan harga GOTO di bawah Rp 50 berpotensi menekan nilai investasi Telkomsel. Perusahaan telekomunikasi itu masih memegang sekitar 23,72 miliar saham GOTO atau setara 1,99%, dengan harga perolehan sekitar Rp 270 per saham.

Pada harga Rp 50, Thoriq memproyeksikan nilai kepemilikan Telkomsel mencapai sekitar Rp 1,19 triliun, sedangkan nilai perolehannya sekitar Rp 6,40 triliun. Selisihnya mencapai sekitar Rp 5,22 triliun.

Telkomsel tidak langsung membukukan seluruh selisih tersebut sebagai kerugian di laporan laba rugi. Pada semester I 2026, Telkom membukukan unrealized loss dari investasi GOTO sekitar Rp 332 miliar karena mencatat investasi berdasarkan perubahan fair value antarperiode.

"Secara sederhana, setiap penurunan Rp 1 pada saham GOTO dapat mengurangi nilai kepemilikan Telkomsel sekitar Rp 23,7 miliar, tetapi Telkomsel masih memandang investasi GOTO sebagai kemitraan strategi jangka panjang," ucap Thoriq.

Investor IPO Perlu Kenaikan 576% untuk Balik Modal

Investor yang membeli GOTO saat IPO di harga Rp 338 per saham kini menghadapi posisi berat. Dengan harga yang bertahan di Rp 50, sahamnya telah anjlok sekitar 85% dan membutuhkan kenaikan hingga 576% untuk kembali ke level IPO.

Menurut Thoriq, investor tidak bisa hanya mengandalkan harapan harga GOTO kembali naik ke Rp 338. Kondisi bisnis perseroan saat ini sudah berbeda dibandingkan tahun 2022.

"Saya juga melihat average down sebaiknya tidak dilakukan secara agresif sebelum harga baru setelah 28 September mulai terbentuk lebih stabil," kata Thoriq.

Dari sisi fundamental, GOTO sudah mulai membaik setelah membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut. Perseroan juga membukukan pertumbuhan kuat di bisnis fintech dan menyiapkan program buyback hingga Rp 3,5 triliun.

Bagi investor institusi lain, Thoriq menilai dampak penurunan harga akan berbeda karena harga masuk dan tujuan investasi masing-masing tidak sama. Peluang rebound GOTO tetap terbuka, namun sangat bergantung pada konsistensi perseroan menjaga profitabilitas.

Reporter: Ridwan Azhari