Shell Indonesia Klaim Bisnis Pelumas Tetap Prospektif di Tengah Lonjakan Penjualan BEV
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Shell Indonesia menyatakan permintaan pelumas masih tinggi karena mayoritas kendaraan yang beredar merupakan tipe pembakaran internal dan hybrid. Jason Wong, Global Executive Vice President Shell Lubricants, menegaskan bahwa porsi pasar konvensional belum akan hilang dalam waktu dekat meski adopsi mobil listrik terus meningkat secara signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Penetrasi kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia memang menunjukkan tren pertumbuhan agresif. Namun, Shell menilai basis pengguna kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dan hibrida masih menjadi tulang punggung konsumsi pelumas nasional.
Data Gaikindo Tunjukkan Dominasi ICE Masih Kuat
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kontribusi mobil ICE terhadap total penjualan nasional turun dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025. Angka ini kemudian melorot lagi ke kisaran 75 persen per Maret 2026.
Sementara itu, pangsa pasar BEV melejit dari hanya 0,1 persen pada 2021 menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsinya naik menjadi 15,6 persen. Pertumbuhan volume penjualan BEV bahkan mencapai 96 persen dengan total 33.146 unit, jauh melampaui pertumbuhan industri otomotif secara keseluruhan yang hanya 1,7 persen.
Kebutuhan Pelumas Hybrid Tidak Hilang Sepenuhnya
Jason Wong menjelaskan bahwa kategori kendaraan penumpang di pasar domestik tidak terbatas pada EV murni. Mayoritas konsumen masih menggunakan teknologi hybrid dan konvensional yang sangat bergantung pada produk pelumasan.
"Memang adopsi EV sudah semakin banyak, tapi dari sisi mobil penumpang sendiri sebetulnya kategorinya masih banyak, ada hybrid dan mayoritas masih ICE," ujar Wong saat ditemui di Jakarta, Selasa (15/9).
Ia menambahkan, sekitar 70-80 persen kebutuhan pelumasan pada kendaraan hybrid tetap ada. Hal ini memastikan segmen pelanggan tersebut akan terus dilayani oleh Shell untuk beberapa waktu ke depan.
Peluncuran Pabrik Gemuk dan Produk E-Fluids
Mengantisipasi perubahan lanskap otomotif, Shell telah mulai menyesuaikan portofolio bisnisnya. Perusahaan meluncurkan lini produk khusus untuk kendaraan listrik yang disebut e-fluids.
Langkah strategis lainnya adalah peresmian Pabrik Manufaktur Gemuk (Grease Manufacturing Plant/GMP) di Indonesia. Fasilitas baru ini memiliki kapasitas produksi hingga 12 kiloton per tahun.
Pabrik GMP tersebut melengkapi operasional Pabrik Pelumas (Lubricants Oil Blending Plant/LOBP) Marunda milik Shell di Bekasi. Fokus utama dari fasilitas baru ini menyasar sektor industri yang diprediksi tetap membutuhkan lubrikasi dalam jangka panjang.
"Target kami sektor industri, sektor ini akan tetap butuh lubrikasi sampai beberapa tahun ke depan," kata Wong menutup penjelasannya mengenai arah bisnis perusahaan di tengah transisi energi.