Cara Buang Koper Bekas di Jepang Sesuai Aturan, Biaya Mulai Rp 40 Ribu
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Bandara Chubu di Prefektur Aichi mencatat puluhan kasus koper tak bertuan yang ditinggalkan pemiliknya dalam waktu singkat. Fenomena ini terjadi karena banyak turis asing memilih membuang koper lama yang rusak saat check-out, lalu membeli unit baru sebagai pengganti sebelum pulang ke Indonesia.
Hotel-hotel di Jepang mulai kewalahan menangani akumulasi bagasi bekas tersebut. Bagi traveler, memahami regulasi pembuangan sampah sangat krusial. Di Jepang, koper dikategorikan sebagai sodai gomi atau sampah berukuran ekstra besar yang memiliki sistem penanganan terpisah dari sampah rumah tangga biasa.
Prosedur Resmi Membuang Sodai Gomi
Setiap kota di Jepang menerapkan mekanisme penjemputan sampah oversized yang terstruktur. Langkah pertama adalah menghubungi layanan setempat untuk mendaftar dan mengisi data diri. Petugas akan menjadwalkan waktu pengambilan sesuai ketersediaan rute truk sampah daerah.
Sebelum hari penjemputan tiba, wisatawan harus membeli stiker khusus pembuangan. Stiker ini tersedia di minimarket (konbini) dengan harga berkisar 400 hingga 700 Yen per lembar. Tempelkan stiker tersebut pada bagian luar koper, kemudian letakkan barang di titik penjemputan yang telah ditentukan sebelumnya.
Opsi Alternatif Melalui Hotel dan Toko
Jika proses pendaftaran mandiri dirasa terlalu rumit, traveler bisa bertanya kepada staf hotel atau petugas bandara mengenai layanan pembuangan koper. Beberapa fasilitas menawarkan jasa pengangkutan dengan biaya sekitar 1.200 Yen per unit. Metode ini lebih praktis bagi mereka yang tidak memiliki waktu untuk mengurus administrasi sampah lokal.
Bagi yang berencana membeli koper baru, manfaatkan program daur ulang toko. Banyak gerai di kawasan belanja populer seperti Shinsaibashi menyediakan opsi tukar tambah atau daur ulang koper lama. Biayanya relatif terjangkau, yakni sekitar 500 Yen. Tanyakan langsung kepada pramuniaga saat transaksi pembelian barang baru berlangsung.
Servis Daripada Buang
Pakar perjalanan menyarankan perbaikan minor sebelum memutuskan membuang koper. Kerusakan pada roda, resleting, atau pegangan tangan sering kali masih bisa diperbaiki. Jepang memiliki banyak toko servis koper profesional yang tersebar di pusat-pusat transportasi utama. Memerbaiki barang justru mengurangi jejak karbon dan mencegah penambahan volume sampah nasional.
Mematuhi aturan sodai gomi bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya disiplin warga setempat. Traveler yang meninggalkan koper sembarangan berisiko mendapat teguran atau bahkan denda tergantung kebijakan manajemen hotel. Pastikan semua bagasi tertangani secara legal sebelum penerbangan kembali ke tanah air.