Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga Pertamax Ikut Formula Pemerintah di Tengah Minyak US$108

VP Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan penetapan harga BBM mengikuti kebijakan dan formula Pemerintah.
Penulis: Muzakir Salim
Minggu, 13 September 2026 | 08:01:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — VP Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan perseroan tidak menetapkan harga secara sepihak, baik untuk BBM subsidi maupun nonsubsidi. Menurutnya, seluruh penyesuaian harga mengikuti arahan dan formula yang berlaku.

"Pertamina Patra Niaga mengikuti kebijakan Pemerintah dalam penetapan harga BBM. Meskipun terdapat fluktuasi pada sejumlah parameter pembentuk harga, seperti harga minyak dunia dan nilai tukar, untuk BBM subsidi sesuai arahan Pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026," ujar Kitty dalam keterangan resmi, Sabtu (12/9).

Untuk BBM nonsubsidi atau Jenis BBM Umum (JBU), ia menegaskan penetapan harga tetap mengacu pada formula dan ketentuan yang berlaku. "Sementara untuk JBU, harga mengikuti formula yang telah ditetapkan Pemerintah," katanya.

Harga Pertamax Berpotensi Sentuh Rp20 Ribuan

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto sebelumnya memperkirakan harga BBM nonsubsidi bisa berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter. Proyeksi itu disampaikan jika harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

"Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," ujar Eko dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9).

Eko menyebut kondisi pasar energi global masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi, termasuk Selat Hormuz. Situasi itu berdampak pada ketersediaan dan harga minyak dunia.

"Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya," ujarnya.

Brent dan WTI Kompak Naik Hampir 13% Sepekan

Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi. Pada Jumat (11/9), Brent naik sekitar 1 persen menjadi US$108,68 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1 persen menjadi US$103,45 per barel.

Kedua harga acuan tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 6 persen pada perdagangan Kamis (10/9). Secara mingguan, Brent dan WTI masing-masing telah naik hampir 13 persen.

Eko berharap harga minyak dunia dapat kembali turun ke kisaran US$60-US$70 per barel seperti sebelum krisis geopolitik. Namun, ia menyebut pergerakan harga masih bergantung pada perkembangan kondisi global.

Dampak ke Konsumen dan Pelaku Usaha

Bagi konsumen, kepastian tidak adanya kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 menjadi penahan utama tekanan biaya transportasi dan logistik. Sementara untuk pengguna Pertamax dan Pertamina Dex, arah harga akan sangat bergantung pada pergerakan minyak mentah dan nilai tukar rupiah.

Jika Brent bertahan di atas US$100 per barel, ruang bagi pemerintah dan Pertamina untuk menahan harga JBU di level saat ini bakal menyempit. Pelaku usaha angkutan barang dan logistik yang memakai BBM nonsubsidi perlu mengantisipasi potensi penyesuaian biaya operasional.

Pertamina Patra Niaga menyatakan akan terus menjalankan kebijakan pemerintah terkait harga dan penyaluran BBM serta menyesuaikan pelaksanaannya dengan ketentuan yang berlaku.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Muzakir Salim