Pertamina Bangun Biorefinery Cilacap US$1,1 Miliar, Produksi SAF Mulai 2029

Kilang Refinery Unit IV Cilacap, lokasi rencana pembangunan Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah.
Penulis: Fadhli Usman
Jumat, 11 September 2026 | 08:42:01 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.IDParagraf pembuka: Fasilitas ini akan berdiri di atas lahan sekitar 17,5 hektare di kawasan Kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah. Pertamina menargetkan biorefinery mampu mengolah used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi SAF dan produk biofuel lain dengan kapasitas sekitar 870 kiloliter (KL) per hari.

Jadwal Konstruksi dan Nilai Investasi

Hermawan Budiantoro, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, menyebut persiapan proyek sudah berjalan sejak 2025. Tahapannya mencakup engineering design, perencanaan pengadaan, hingga pra-tender.

"Nanti mulai EPC-nya, targetnya adalah di tahun 2027, jadi planning procurement and construction, kemudian harapannya nanti on-stream-nya di tahun 2029 dengan nilai total investasi estimasinya kira-kira mencapai sekitar 1,1 billion USD," ujar Hermawan di RU IV Cilacap, Kamis (10/9).

Dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS, nilai investasi tersebut setara Rp 17,6 triliun. Angka ini menempatkan Biorefinery Cilacap sebagai salah satu proyek hilirisasi energi terbesar Pertamina dalam beberapa tahun terakhir.

Kapasitas Produksi dan Kebutuhan Bahan Baku

Kapasitas produksi SAF diproyeksikan mencapai 860 KL per hari, atau sekitar 288.000 KL per tahun. Untuk memenuhi target itu, Pertamina memperkirakan kebutuhan bahan baku UCO mencapai 318.000 ton per tahun.

Pasokan minyak jelantah akan dihimpun lewat dua jalur. Skema business to consumer (B2C) menyasar rumah tangga dan masyarakat umum, sementara skema business to business (B2B) menggandeng sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta perusahaan pengumpul minyak jelantah.

Produk SAF yang dihasilkan nantinya disalurkan untuk kebutuhan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Jejak Uji Terbang Sejak 2021

Pengembangan SAF bukan hal baru bagi Pertamina. Sebelum membangun fasilitas khusus berbasis UCO, perseroan menjalankan pengujian melalui skema co-processing di unit kilang eksisting dengan campuran 2% hingga 2,4% refined, bleached and deodorized palm kernel oil (RBDPKO).

Uji terbang pertama digelar menggunakan pesawat CN-235 pada rute Jakarta-Bandung pada Oktober 2021. Dua tahun berselang, Pertamina bersama Garuda Indonesia melakukan commercial flight test memakai Boeing 737-800NG pada rute Jakarta-Solo.

"Pada bulan September 2023 di tahun yang sama dilakukanlah commercial flight test dengan Garuda Indonesia menggunakan Boeing 737-800NG, rutenya Jakarta-Solo. Dan sukses, dinyatakan sukses memang bisa diimplementasikan SAF ini," kata Hermawan.

Pertamina lantas mengembangkan UCO-SAF dengan katalis buatan Research & Technology Innovation (RTI) Pertamina. Produk tersebut meraih sertifikasi ISCC CORSIA pada 2024, dan produksi perdana UCO-SAF dijalankan di RU IV Cilacap pada Juli-Agustus 2025.

Fasilitas Penunjang Sebelum 2029

Sambil menunggu Biorefinery Cilacap beroperasi penuh, Pertamina menyiapkan sejumlah fasilitas eksisting sebagai bagian dari peta jalan pengembangan biofuel. Fasilitas itu meliputi Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) RU IV Cilacap berkapasitas 8,4 ribu barel per hari, LCO Treater RU VI Balongan, serta Hydrocracking Unit (HCU) RU II Dumai.

Langkah ini menjaga kesinambungan produksi biofuel sembari menunggu kilang khusus UCO rampung. Skema tersebut juga memberi ruang bagi Pertamina untuk menguji skala produksi dan menyesuaikan rantai pasok bahan baku sebelum kapasitas penuh berjalan.

Penutup: Bagi industri penerbangan nasional, kehadiran Biorefinery Cilacap berpotensi mengurangi ketergantungan pada SAF impor sekaligus memperkuat komitmen dekarbonisasi sektor aviasi. Keberhasilan proyek ini akan bergantung pada kesiapan pasokan minyak jelantah dari rumah tangga hingga horeka, serta kepastian serapan dari maskapai dan bandara.

Reporter: Fadhli Usman