Pemprov Sumbar Data Ulang Lahan Sawah Rusak Berat Terdampak Bencana, Target Rehabilitasi Dimulai 2027

Petugas pemprov bersama kementerian terkait melakukan pendataan ulang lahan sawah rusak berat terdampak bencana di Sumatera Barat.
Penulis: Saifuddin Wahid
Jumat, 04 September 2026 | 04:06:32 WIB

PADANG — Pemulihan lahan sawah rusak berat di Sumatera Barat memasuki tahap persiapan. Pemprov bersama kementerian terkait tengah melakukan pendataan ulang guna memetakan kondisi terkini lahan terdampak bencana di sejumlah kabupaten dan kota.

Pendataan ini menjadi langkah awal yang menentukan, sebab hasilnya akan membagi lahan ke dalam dua kategori: masih dapat direhabilitasi dan sudah tidak mungkin dipulihkan. Kategori kedua nantinya akan dialihfungsikan sesuai peruntukan yang paling memungkinkan.

Mengapa Pendataan Ulang Diperlukan?

Bencana alam yang melanda Sumbar dalam beberapa tahun terakhir meninggalkan kerusakan signifikan pada areal persawahan. Material lumpur, pasir, hingga batuan yang terbawa banjir bandang dan lahar membuat sebagian lahan tidak lagi produktif.

Kondisi lapangan yang berubah cepat mendorong pemerintah memastikan data terbaru sebelum menentukan langkah intervensi. Pendataan sebelumnya dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi aktual di tingkat petak sawah.

Bagaimana Nasib Lahan yang Tak Bisa Dipulihkan?

Untuk lahan yang masuk kategori rusak berat permanen, pemerintah akan mencari pola pemanfaatan alternatif. Langkah ini sekaligus menjawab pertanyaan warga pemilik lahan yang selama ini menggantungkan hidup dari bertani.

Kepastian status lahan menjadi krusial. Petani membutuhkan kejelasan apakah lahannya bakal direhabilitasi, diganti dengan skema lain, atau dialihfungsikan dengan kompensasi yang jelas.

Rehabilitasi Ditargetkan Jalan pada 2027

Pemerintah menargetkan proses pemulihan lahan sawah rusak berat dapat dimulai pada 2027. Rentang waktu ini dibutuhkan untuk merampungkan pendataan, analisis kelayakan, serta penyiapan anggaran dan mekanisme pelaksanaan di lapangan.

Tahapan yang panjang ini diharapkan menghasilkan program rehabilitasi yang tepat sasaran, bukan sekadar pemulihan fisik semata. Keberlanjutan produktivitas pertanian Sumbar menjadi pertimbangan utama di balik setiap keputusan yang diambil.

Reporter: Saifuddin Wahid