SPOGOMI Jakarta 2026: Ratusan Orang Lari Pagi Sambil Memungut Sampah di Sudirman

Ratusan peserta mengikuti SPOGOMI Jakarta 2026 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (23/8/2026), dengan memungut sampah sambil berolahraga pagi.
Penulis: Ridwan Azhari
Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:20:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Buat kamu yang bosan dengan rutinitas lari di treadmill atau sekadar jalan santai di mall, tren dari Jepang ini mungkin bisa jadi alternatif seru. Namanya SPOGOMI, singkatan dari Supotsu Gomihiroi, atau kalau diterjemahkan bebas: olahraga memungut sampah. Konsepnya simpel, tapi eksekusinya butuh strategi dan kecepatan.

Di Jakarta, ajang ini baru saja digelar lewat SPOGOMI Jakarta 2026 di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Minggu (23/8/2026). Sejak pukul 06.00 WIB, para peserta yang datang dari berbagai kalangan—pelajar SMP, mahasiswa, pekerja kantoran, sampai komunitas—sudah siap dengan misi yang sama: mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya.

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, Ada Tekniknya

Yang bikin kegiatan ini beda dari kerja bakti biasa adalah unsur kompetisinya. Setiap tim bergerak menyusuri rute yang sudah ditentukan, lalu sampah yang berhasil dikumpulkan bakal ditimbang dan dipilah berdasarkan kategori. Jadi, nggak asal masuk kantong, ada aturan mainnya.

Justru dari sinilah tantangannya muncul. Peserta dituntut berpikir cepat menentukan titik mana yang paling banyak sampahnya, sekaligus tetap menjaga fisik biar kuat sampai garis finis. Olahraga, kerja sama tim, dan kepedulian lingkungan jadi satu paket lengkap.

Kolaborasi Jadi Kunci Atasi Sampah Jakarta

Di balik keseruan kompetisi, acara ini menyiratkan pesan penting: masalah sampah bukan cuma tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Susi Andriani, Ketua Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menegaskan bahwa peran serta masyarakat dan dunia usaha sangat menentukan.

“Acara ini sangat bagus karena melibatkan peran serta masyarakat, terutama dari dunia usaha. Banyak sekali dunia usaha yang ikut mendukung kegiatan SPOGOMI,” ujar Susi dalam keterangannya.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta diperlukan untuk mendukung Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Pemerintah memang tidak bisa bergerak sendirian dalam mengurangi timbulan sampah di ibu kota.

Harapan Besar Setelah Acara Selesai

Caesario Mi’radz, Marketing Manager AEON Delight Indonesia (PT Sinar Jernih Sarana), menekankan bahwa keberhasilan SPOGOMI tidak diukur dari seberapa banyak sampah yang terkumpul saja. “Bagi kami, SPOGOMI bukan sekadar kegiatan memungut sampah. Ini bentuk nyata komitmen untuk ikut menjaga lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat,” katanya.

Ia berharap kebiasaan memungut dan memilah sampah ini tidak berhenti setelah kompetisi usai. “Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kegiatan ini selesai. Kami berharap setiap peserta pulang dengan kesadaran baru bahwa sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita,” ujarnya.

Senada dengan itu, Minister Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Kenji Enoshita, mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari unit terkecil, mulai dari individu, keluarga, hingga sekolah. Jepang sendiri dikenal sukses membangun budaya ini lewat kebiasaan sehari-hari, dan SPOGOMI kini bahkan sudah jadi kompetisi internasional lewat SPOGOMI World Cup.

Jadi, kalau kamu selama ini mencari alasan buat mulai olahraga, mungkin ini saatnya mencoba hal yang berbeda. Nggak cuma badan yang sehat, lingkungan sekitar juga ikut diuntungkan. Lumayan kan, satu kegiatan dua manfaat.

Reporter: Ridwan Azhari