Wisata Belanja Jadi Motor Ekonomi Baru, Pemerintah Targetkan Belanja Turis di Dalam Negeri

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membuka Indonesia Retail Summit & Expo 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Penulis: Ridwan Azhari
Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:04:31 WIB

LIPUTANHARIAN.CO.ID — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong sektor ritel dan kuliner menjadi daya tarik utama wisatawan agar belanja mereka berputar di dalam negeri. Hal ini disampaikan dalam Opening Ceremony Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 dan Penyerahan Penghargaan Hari Ritel Modern Indonesia (HARMONI) Awards 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

“Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru,” ujar Airlangga.

Potensi Belanja WNI di Luar Negeri Capai USD 6,7 Miliar

Data Bank Indonesia mencatat sebanyak 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri sepanjang Semester I 2026. Pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri mencapai sekitar USD 6,7 miliar.

Angka tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Jika sebagian konsumsi itu bisa dialihkan ke destinasi dan pusat belanja dalam negeri, dampaknya akan signifikan terhadap perekonomian nasional.

Ritel Merambah Desa Lewat Koperasi Merah Putih

Transformasi perdagangan tidak berhenti di kota-kota besar. Pemerintah memperluas ekosistem ritel hingga ke pedesaan melalui penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

“Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan,” jelas Airlangga.

Koperasi ini dirancang menjadi bagian dari rantai distribusi barang kebutuhan masyarakat sekaligus menyerap produk pertanian dan perikanan lokal. Dengan begitu, perdagangan menjadi penghubung langsung antara produsen daerah dan konsumen.

Retail Wajib Prioritaskan Produk Dalam Negeri

Pemerintah menekankan sinergi antara sektor ritel dan industri dalam negeri. Pertumbuhan transaksi perdagangan tidak boleh hanya menguntungkan distributor, tetapi juga menciptakan permintaan terhadap produk buatan pelaku usaha domestik.

“Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri,” pungkasnya.

Strategi ini diharapkan membentuk siklus ekonomi yang kuat: konsumen berbelanja, ritel memperoleh manfaat, dan produsen lokal mendapatkan pasar yang lebih luas.

Keyakinan Konsumen Tetap di Zona Optimistis

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada Triwulan II 2026 dan berkontribusi 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8, masih di atas batas optimistis 100.

Digitalisasi sistem pembayaran turut memperkuat ekosistem ritel hingga Juni 2026. Transformasi ini berjalan seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengandalkan transaksi non-tunai.

Reporter: Ridwan Azhari