Prabowo Resmi Luncurkan PLTS 100 GWp, Target Rampung 2029 dan Hemat Rp 73,9 Triliun per Tahun
LIPUTANHARIAN.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program nasional PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Tahap awal proyek ini mencakup pembangunan 14 PLTS di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
"Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini secara resmi saya luncurkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GWp diawali dengan 14 PLTS," ujar Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan daring.
Target Penyelesaian Lebih Cepat dari Rencana Awal
Presiden menargetkan proyek 100 GWp ini rampung dalam waktu tiga tahun, bahkan berharap bisa dipercepat menjadi dua tahun. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Presiden telah menginstruksikan pembangunan 100 GWp PLTS diselesaikan pada 2029.
Program ini merupakan bagian dari Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Tujuannya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Efisiensi Biaya Listrik Capai Rp 73,9 Triliun per Tahun
Prasetyo mengungkapkan program ini akan menghasilkan efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp 73,9 triliun per tahun. Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS sekaligus menghentikan operasi 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan rincian Tahap I sebesar 17 GWp, Tahap II 18 GWp, dan Tahap III 30 GWp.
Potensi Surya 3.294 GWp, Baru Terpasang 1,5 GWp
Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp. Namun kapasitas terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp, artinya pemanfaatan energi surya masih sangat kecil dibanding potensinya.
Program PLTS 100 GWp diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Investasi akan mengalir ke pembangkit, baterai, dan jaringan transmisi, sekaligus memperkuat industri solar PV dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja hijau.
Bagi pelaku industri dan investor, program ini membuka peluang besar di sektor energi terbarukan, khususnya hulu hingga hilir rantai pasok panel surya. Namun realisasi target ambisius ini tetap bergantung pada kecepatan pembebasan lahan, pendanaan, dan kesiapan industri pendukung dalam negeri.