Daya Beli Lesu, Omzet Batik Olive Kota Batu Turun Drastis: Begini Jurus Bertahan di Tengah Badai Ekonomi
BATU — Lesunya daya beli masyarakat menjadi ujian berat bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Jawa Timur. Batik Olive, salah satu produsen batik andalan Kota Batu, merasakan langsung dampaknya dengan penurunan omzet yang signifikan dari berbagai lini penjualan.
Pemilik Batik Olive, Iwan Ahmad Airawan, mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi saat ini terasa lebih berat dibandingkan masa pandemi COVID-19. Sepinya pengunjung pameran dan menurunnya pesanan reguler menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi.
Omzet Tertahan, Biaya Produksi Terus Berjalan
"Ekonomi saat ini berat sekali. Jadi kita bagaimanapun mau meningkatkan kualitas, tetap stagnan, kurang greget. Karena lemahnya daya beli sekarang itu luar biasa," ungkap Iwan saat ditemui pada Rabu (19/8/2026).
Kondisi ini membuat omzet Batik Olive tertahan di angka Rp100 juta hingga Rp150 juta per bulan. Padahal, dalam kondisi ekonomi normal, usahanya mampu meraup omzet lebih dari Rp200 juta per bulan. Meski pertumbuhan melambat, Iwan bersyukur usahanya masih bisa bertahan dan memproduksi batik setiap harinya.
Modal dari Pertamina Jadi Penyelamat di Masa Sulit
Di balik ketahanan Batik Olive, terdapat peran strategis dari Pertamina. Perusahaan energi pelat merah tersebut menyalurkan bantuan permodalan sebesar Rp100 juta pada tahun 2019. Dana tersebut menjadi penopang utama usaha saat pandemi COVID-19 memukul sektor ekonomi pada 2020 silam.
"Itu (bantuan modal) awalnya untuk survive waktu COVID-19. Baru yang kedua untuk pengembangan. Kami bisa survive saja alhamdulillah," jelas Iwan.
Kini, Batik Olive berharap dukungan serupa terus digalakkan, khususnya fasilitas untuk mengikuti pameran berskala nasional hingga internasional. Strategi proaktif mencari pembeli di luar negeri dan kembali menghubungi pelanggan lama menjadi langkah andalan untuk menjaga roda bisnis tetap berputar.
Dari Akuntan Stres Menjadi Perajin Batik Presiden
Perjalanan Batik Olive menyimpan cerita unik. Dirintis sejak tahun 2000, usaha ini lahir dari keputusan nekat Iwan yang sebelumnya berprofesi sebagai akuntan. Masalah kesehatan akibat stres bekerja dengan angka memaksanya banting setir mengikuti hobi menggambar yang diaplikasikan ke dalam desain batik.
Nama Olive sendiri diambil dari nama sang anak yang diyakini membawa rezeki. Konsistensi Iwan memproduksi batik dengan motif khas Batu seperti bunga dan buah apel membuahkan hasil membanggakan. Karya-karyanya telah dikenal luas dan kerap dijadikan seragam dinas maupun cinderamata resmi.
Bahkan, batik buatannya telah dikenakan oleh jajaran Presiden Republik Indonesia, dari era Gus Dur hingga Jokowi. "Waktu Pak Jokowi kunjungan ke Batu, beliau dikasih bingkisan batik oleh Pemkot, habis itu dipakai. Saya lihat di koran, oh ini pakai batik saya," kenangnya.
Pertamina Diminta Perluas Dukungan ke UKM Kecil
Ke depannya, Iwan berharap dukungan dari pemerintah daerah dan BUMN terus digalakkan. Ia menyoroti absennya dukungan pameran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Batu saat ini, yang diyakininya karena keterbatasan anggaran.
Oleh karena itu, ia secara khusus menitipkan harapan kepada Pertamina agar program yang sudah berjalan baik dapat diperluas sasarannya. "Pertamina harus lebih banyak men-support beberapa UKM yang masih baru atau masih kecil. Bisa terus diajak pameran atau seminar supaya ada peningkatan (kelas)," pungkas Iwan.