Film Fiksi Ilmiah Makin Sering Pertanyakan Posisi Manusia di Bumi, dari Invasi Alien hingga Laut yang Berbalik Arah
JAKARTA TIMUR — Kehadiran makhluk asing dalam film hampir selalu mengganggu satu keyakinan yang selama ini dianggap lumrah: manusia adalah pusat dari dunia yang mereka tinggali. Asumsi itu yang coba dibongkar oleh sejumlah sineas melalui premis-premis fiksi ilmiah, di mana manusia tiba-tiba kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri.
Manusia membangun rumah, mengatur laut, memetakan wilayah, hingga mengebor dasar bumi. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana jika suatu hari asumsi tersebut dibalik? Bagaimana jika Bumi tidak pernah benar-benar diciptakan untuk manusia?
Rumah yang Berubah Menjadi Asing
Pertanyaan itu terdengar seperti fiksi, dan memang demikian. Namun, hampir seluruh sejarah fiksi ilmiah dibangun dari pertanyaan yang awalnya terdengar tidak masuk akal. Salah satu pintu masuk terbaru adalah film The End of Oak Street karya David Robert Mitchell.
Film ini berkisah tentang sebuah kawasan suburban yang tiba-tiba terputus dari dunia setelah sebuah peristiwa kosmik. Keluarga Platt harus bertahan hidup di lingkungan yang masih menyerupai rumah mereka, tetapi tidak lagi memiliki dunia yang sama. Rumah masih berdiri, yang berubah adalah segala sesuatu di luarnya.
Premis tersebut dapat dibaca sebagai kisah bertahan hidup, tetapi ada pembacaan lain yang lebih menarik: bagaimana jika manusia tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk memahami habitatnya sendiri? Selama ribuan tahun, peradaban manusia berkembang melalui kemampuan mengubah lingkungan. Hutan menjadi kota, sungai dibendung, gunung dipotong, dan hewan didomestikasi. Rumah menjadi batas paling sederhana antara manusia dan dunia luar.
Spielberg dan Kegelisahan Bahwa Kita Tidak Sendirian
Jauh sebelum The End of Oak Street, sinema telah berkali-kali membawa manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Steven Spielberg adalah salah satu sineas yang paling konsisten mengeksplorasi wilayah tersebut.
Dalam Close Encounters of the Third Kind, manusia berhadapan dengan kehidupan cerdas lain yang cara berkomunikasinya berada di luar pemahaman manusia. Sementara dalam E.T. the Extra-Terrestrial, makhluk asing justru menjadi sosok yang membutuhkan pertolongan manusia. War of the Worlds membawa perspektif ke arah sebaliknya: manusia yang biasanya menjadi pemburu tiba-tiba berada pada posisi mangsa.
Perubahan perspektif itu penting. Alien tidak lagi sekadar makhluk dari luar angkasa, melainkan menjadi cara sinema mengukur kesombongan manusia. Gagasan serupa muncul dalam The Day the Earth Stood Still versi 2008 yang dibintangi Keanu Reeves sebagai Klaatu. Kedatangan makhluk asing ke Bumi membawa penilaian terhadap perilaku manusia terhadap planet yang mereka tempati.
Ketika Laut Membalik Posisi Manusia
Laut memberikan perspektif yang berbeda. Selama berabad-abad, manusia memperlakukannya sebagai wilayah yang harus ditaklukkan. Kita memetakan kedalamannya, menangkap penghuninya, mengebor dasar laut, dan membangun kapal untuk melintasi samudra. Namun, manusia tetap hanya memahami sebagian kecil dari dunia laut.
Dalam imajinasi The Last House, posisi tersebut dibalik. Makhluk laut menjadi pihak yang memiliki kekuasaan. Manusia kehilangan kebebasan bergerak, dan rumah yang seharusnya menjadi perlindungan berubah menjadi benteng sekaligus penjara.
Bayangkan seekor ikan di dalam akuarium. Manusia menentukan ukuran ruangnya, mengatur air, menyediakan makanan, dan membersihkan kaca yang menjadi batas dunianya. Sekarang balik perspektifnya: bagaimana jika manusia berada di dalam akuarium yang dibuat oleh makhluk lain?
Tentu ini bukan ilmu pengetahuan, melainkan imajinasi. Tetapi imajinasi memberi ruang untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap pasti: bahwa manusia adalah spesies paling penting di Bumi. Jika kita tidak sendirian, pertanyaan yang jauh lebih mengganggu muncul—apakah manusia masih menjadi penguasa atas dunianya sendiri?